Jumat, 05 Oktober 2012

19 (Indonesia)


Donna tiba-tiba masuk ke kamar Havyn dan melontarkan tubuhnya ke pembaringan, saat Havyn sedang asyik bersenandung sambil memetik gitar.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Ini kamar laki-laki. Perempuan tidak boleh sembarangan masuk.” Kata Havyn kepada Donna yang berbaring di sampingnya.
Donna membalas, “Kata siapa? Dari kecil aku selalu masuk ke kamarmu seperti ini. Kamu saja yang berubah, sejak ada Cinta.”
Tanpa membalas apa yang dikatakan Donna, Havyn kembali memetik gitarnya.
“Havyn.” Nada bicara Donna tiba-tiba berubah serius. “Apa yang kamu lakukan kepada Cinta?”
“Urus saja dirimu sendiri. Tidak usah ikut campur urusan orang!” kata Havyn dengan tandas, tanpa menghentikan jarinya yang sedang memetik gitar.
Tanpa mempedulikan reaksi Havyn, Donna melanjutkan perkataannya. “Kalian berdua baik-baik saja?”
Kali ini Havyn menghentikan petikan pada gitarnya. “Memangnya kenapa?”
Donna melanjutkan. “Akhir-akhir ini Cinta jarang makan dan sepertinya kurang sehat. Katanya sedang diet. Tapi menurutku, sepertinya terlalu berlebihan. Apakah kau yang menyuruhnya berdiet?”
Setelah berpikir sejenak, Havyn menjawab secara perlahan. “Tidak pernah. Menurutku, Cinta lumayan kurus.”
“Jadi, kamu benar-benar tidak tahu, atau tidak peduli? Sebagai pacarnya, seharusnya kamu….”
Jika dibiarkan, Donna tidak akan pernah berhenti menasehatinya. Havyn segera bangkit, menarik Donna dari pembaringannya dan mendorongnya keluar dari kamar, sebelum mengunci pintunya. Tapi Donna tetap saja menggedor-gedor pintu kamar Havyn yang terkunci sambil berteriak-teriak mengancamnya. “Havyn! Awas kalau terjadi sesuatu pada Cinta!”
Sepeninggal Donna, Havyn termenung di kursi meja komputernya, berusaha memikirkan apa yang dikatakan oleh Donna. Setelah beberapa saat, tangannya mulai bergerak, mencari informasi melalui situs pencarian online.

~*~

Kamis, 04 Oktober 2012

18 (Indonesia)


“Cinta kelihatan berbeda.” Bisik Bayu kepada Havyn yang duduk di samping kanannya, sambil mengamati Cinta yang duduk pada barisan depan, dari kursi deretan belakang, saat mereka mengikuti kuliah umum.
“Apanya?” tanya Havyn tidak mengerti.
“Meskipun terlihat lelah, tapi hari ini dia lebih ceria.”
“Masa?”
“Ada apa?” Bisik Satria, sambil menjulurkan kepala dari samping kiri Bayu yang duduk di tengah.
Bayu membisikkan sesuatu ke telinga Satria. Keduanya kemudian tertawa lirih.
Satria ikut menggoda Havyn sambil berusaha menahan tawa. “Semalam kalian ke mana saja? Kata Donna, kamu tiba-tiba kabur dengan membawa mobil papamu.”
Keduanya kembali tertawa, sementara Havyn hanya bisa menundukkan kepala dan mengutuk Donna di dalam hatinya. Meskipun lirih, tapi suara tawa mereka ternyata berhasil menarik perhatian sebagian mahasiswa yang mengikuti kelas yang sama. Demikian juga dosen mereka.
“Saudara yang tertawa di belakang! Ya, kalian berdua.”
Havyn berusaha keras menahan diri, agar tidak menertawakan mereka. Tapi dosen itu ternyata cukup jeli.
“Saudara yang di sebelahnya juga. Jadi pas. Tiga pertanyaan, untuk kalian bertiga. Coba jelaskan, apa yang dimaksud dengan semantik, semiotik dan pragmatik.”

~*~

Rabu, 03 Oktober 2012

17 (Indonesia)


Beberapa saat sebelum Cinta tampil, Havyn sudah tiba di XXX. Latar belakang dan lantai catwalk berkabut putih terang yang ditimpali dengan lampu sorot kebiruan membuat Cinta terlihat bagaikan seorang puteri, yang melangkah di atas awan, dengan gaunnya yang berwarna merah muda, berhiaskan taburan kilau cahaya yang memantul pada kristal dan permata yang bertebaran di permukaannya.
Syukurlah. Havyn merasa khawatir jika Cinta harus mengenakan busana yang minim, seperti saat tampil di XTC. Senyum yang dilayangkannya kepada Havyn dari atas catwalk, menunjukkan bahwa Cinta menyadari keberadaannya di sana, yang kemudian dibalasnya dengan sebuah senyum yang penuh dengan rasa bangga.
“Kutunggu di luar, ya?”
Ajaib! SMS singkat yang dikirimkannya kepada Cinta setelah berakhirnya acara, ternyata benar-benar membuatnya menemui Havyn di lobi depan. Tentunya, setelah ia berganti pakaian dan menghapus riasan tebal dari wajahnya, sehingga tampak seperti remaja puteri pada umumnya.
“Haaavyn.” Cinta menyapanya dengan mata berkaca-kaca dan memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan melalui kata-kata. 
Havyn menyambut Cinta dengan senyum, pelukan dan kecupan pada pipinya, lalu berbisik ke telinganya. “Memangnya kamu sudah boleh keluar?”
“Tapi, aku sudah meminta ijin, untuk menemuimu sebentar.”
“Sebentar? Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu pulang?”
“Serius?”
Havyn mengangguk.
“Coba, aku tanyakan dulu, ya.”
Sekali lagi Havyn mengangguk dan mengatakan, “Kutunggu di sini.”
Cinta kembali menghilang. Tak beberapa lama kemudian, sebuah SMS sampai ke telepon genggam Havyn.
“Boleh!” kata Cinta, melalui pesan tersebut, dan tak beberapa lama kemudian, Cinta kembali muncul dengan menyandang tasnya yang besar, yang kemudian dimasukkan Havyn ke bagasi mobilnya, sambil berjanji kepada Cinta, “Aku tidak akan menceritakan tentang pekerjaanmu kepada siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua.”

~*~

Selasa, 02 Oktober 2012

16 (Indonesia)


“Sekarang aku sudah dirias. Baju yang akan kupakai juga sudah dipersiapkan. Aku hanya tinggal memakainya, dan bersiap-siap untuk tampil. Aku tidak tahu, apakah aku menyukai pekerjaan ini atau tidak. Yang pasti, aku sangat membutuhkannya dan selain Havyn, tidak ada yang mengetahui jika aku melakukannya. Aku khawatir. Banyak orang yang menganggap pekerjaan seperti yang kulakukan tidak cukup baik. Itu yang membuatku tidak memberitahukannya kepada siapa pun juga, dan merasa takut jika Havyn marah. Setelah mengetahuinya, Havyn tidak pernah menghubungiku, dan hanya diam saja sewaktu bertemu di kampus, sebelum kita membicarakannya di kantin. Aku senang karena kita membicarakannya. Terima kasih banyak. Terima kasih, karena kamu tidak marah dan maaf, karena aku harus melakukannya.”
Setelah membaca SMS yang diterimanya dari Cinta, Havyn merasa sangat gelisah. Dengan terburu-buru, ia segera berganti pakaian, lalu meneriakkan permintaan untuk meminjam mobil kepada ayahnya, sambil menyambar kunci mobil yang dimaksud. Hanya ada satu hal yang terlintas di dalam benaknya; Cinta membutuhkan dukunganku, dan aku harus berada di sampingnya.

~*~

Senin, 01 Oktober 2012

15 (Indonesia)


Sepeninggal Cinta, Havyn tetap duduk di kantin, dengan pikiran yang melayang jauh, entah ke mana. Bayu menepuk bahunya.
“Bengong saja!” lalu duduk di sampingnya.
Satria mengambil tempat di depannya, sambil bertanya. “Kenapa sendiri? Mana Cinta?”
“Sudah pulang. Ada urusan.” Meskipun mereka juga di sana pada malam itu, tapi mereka tidak sempat melihat Cinta dan Havyn merasa tidak ingin memberitahukan tentang profesi Cinta kepada mereka.
“Kenapa tidak di antar?” kali ini Bayu yang bertanya.
Satria menimpali. “Benar. Biasanya kamu selalu mengantarkan Cinta ke depan.”
Havyn menjawab. “Sudah ada yang menjemputnya.”
“Wah, dijemput siapa? Jangan-jangan....” Lagi-lagi Bayu menggodanya.
Mereka bertiga terus-menerus bercanda dan tertawa, tanpa sedikit pun membicarakan tentang tragedi yang menimpa Galih pada beberapa hari sebelumnya. Bukan.  Bukan karena mereka tidak menyayangi sahabat mereka, atau mempersalahkannya karena melakukan hal yang kemudian merenggut jiwanya. Mereka bertiga hanya tahu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan.

~*~