Tampilkan postingan dengan label kantin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kantin. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2012

15 (Indonesia)


Sepeninggal Cinta, Havyn tetap duduk di kantin, dengan pikiran yang melayang jauh, entah ke mana. Bayu menepuk bahunya.
“Bengong saja!” lalu duduk di sampingnya.
Satria mengambil tempat di depannya, sambil bertanya. “Kenapa sendiri? Mana Cinta?”
“Sudah pulang. Ada urusan.” Meskipun mereka juga di sana pada malam itu, tapi mereka tidak sempat melihat Cinta dan Havyn merasa tidak ingin memberitahukan tentang profesi Cinta kepada mereka.
“Kenapa tidak di antar?” kali ini Bayu yang bertanya.
Satria menimpali. “Benar. Biasanya kamu selalu mengantarkan Cinta ke depan.”
Havyn menjawab. “Sudah ada yang menjemputnya.”
“Wah, dijemput siapa? Jangan-jangan....” Lagi-lagi Bayu menggodanya.
Mereka bertiga terus-menerus bercanda dan tertawa, tanpa sedikit pun membicarakan tentang tragedi yang menimpa Galih pada beberapa hari sebelumnya. Bukan.  Bukan karena mereka tidak menyayangi sahabat mereka, atau mempersalahkannya karena melakukan hal yang kemudian merenggut jiwanya. Mereka bertiga hanya tahu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan.

~*~

Minggu, 30 September 2012

14 (Indonesia)


“Malam itu, kamu pulang jam berapa?” Tanya Havyn setelah menjauhkan piring makan dan meminum es teh manis, kepada Cinta yang duduk diam di sampingnya, sambil memakan es buah.
Jumat malam yang lalu, Galih meninggal karena over dosis, di tempat yang sama, di mana untuk pertama kalinya Havyn melihat Cinta tampil sebagai model di sana dan sejak itu mereka sama sekali tidak pernah bertemu, atau saling menghubungi. Tidak juga pada pagi tadi, di mana mereka tidak berangkat bersama-sama, karena Havyn harus kuliah pagi, sementara Cinta tidak.
“Jam dua.” Jawab Cinta dengan lirih.
“Diantar?”
Cinta mengangguk.
Selama beberapa saat, hanya terdengar hiruk-pikuk ramainya para pedagang dan mahasiswa yang sedang makan siang di kantin, sebelum Cinta berkata. “Selama dua hari ini, aku tidak berani menghubungi kamu.”
“Kenapa?”
“Aku takut kamu marah.”
“Marah? Kenapa harus marah?”
“Aku harus bekerja, untuk mencari uang. Kasihan mama. Sebentar lagi, adikku juga kuliah.”
“Oh.”
Mereka kembali terdiam.
“Sejak kejadian itu, aku juga tidak menghubungi kamu.” Akhirnya Havyn yang memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Kenapa?” Cinta balas bertanya.
Mood-ku tidak terlalu baik setelah melihat apa yang terjadi pada Galih. Aku bahkan juga tidak pergi ke upacara pemakamannya. Kamu?”
“Aku juga tidak.”
 “Kupikir, kamu marah kepadaku.” Kata Cinta.
“Tidak.”
Setelah beberapa saat, Havyn melanjutkan perkataannya. “Selain seperti yang sering diberitakan di media, aku tidak banyak mengerti tentang pekerjaan yang kamu lakukan.”
Cinta menjawab. “Aku juga tidak. Aku hanya tahu jika sebisa mungkin aku harus datang untuk mengikuti fashion show, dirias, memakai apa yang sudah mereka sediakan, lalu tampil.”
Telepon genggam Cinta berbunyi.
Melihat Cinta menghela napas setelah membaca pesan yang diterimanya, Havyn bertanya. “Kenapa? Ada masalah di rumah?”
“Bukan. Dari manajerku. Katanya, nanti malam ada show di XXX.”
“XXX yang di Senayan?”
Cinta mengangguk. Melihat Havyn yang terlihat tidak terlalu suka, ia segera melanjutkan perkataannya. “Toh hari ini sudah tidak ada kuliah.”
“Tapi besok pagi ada kuliah. Nanti malam kamu pulang jam berapa?”
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Lagi pula, mereka pasti mengantarku pulang sampai ke rumah. Aku juga bisa tidur di jalan.”
Telepon genggam Cinta kembali berbunyi. Setelah membaca pesannya, Cinta berpamitan. “Havyn, aku pergi dulu. Tidak usah di antar. Mereka menungguku di area parkir. Nanti SMS, ya?”

~*~

Selasa, 25 September 2012

9 (Indonesia)


Sambil duduk sendiri di kantin, Havyn memakan sepiring nasi goreng dengan lahap, tanpa menyadari kedatangan Cinta yang secara tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
“Hai.” Sapa Cinta.
“Sudah makan?” Tanya Havyn kepadanya, lalu memasukkan kerupuk ke dalam mulutnya.
Cinta menggeleng, kemudian berpaling, untuk memandang sederetan papan bertuliskan menu yang disajikan oleh para pedagang, lalu beranjak ke salah satu pedagang dan kembali dengan membawa segelas es jeruk.
“Aku sedang tidak ingin makan.”
“Memangnya kamu tidak lapar?”
Cinta hanya menggelengkan kepala. Dihisapnya es jeruk tersebut dengan menggunakan sedotan, lalu menatap es jeruk yang sedang diaduknya dengan sedotan.
“Sepertinya Galih dan Mabel bertengkar.” Cinta berkata dengan lirih.
Havyn menjauhkan piringnya yang sudah kosong dan meminum es teh manisnya, sebelum melayangkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Dilihatnya Galih dan Mabel yang duduk berdua di meja dekat penjual minuman dengan ekspresi serius. Dielusnya punggung Cinta, untuk menenangkannya.
“Ah, tidak. Mereka hanya sedang membicarakan sesuatu.” Katanya, untuk menenangkan Cinta.
Cinta hanya diam. Saat memesan minuman, ia sempat mendengar pembicaraan mereka, meskipun hanya sekilas. Mabel marah kepada Galih dan Galih sedang berusaha membujuknya.

~*~