Donna tiba-tiba masuk ke kamar Havyn dan melontarkan tubuhnya ke pembaringan, saat Havyn sedang asyik bersenandung sambil memetik gitar.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Ini kamar laki-laki. Perempuan tidak boleh sembarangan masuk.” Kata Havyn kepada Donna yang berbaring di sampingnya.
Donna membalas, “Kata siapa? Dari kecil aku selalu masuk ke kamarmu seperti ini. Kamu saja yang berubah, sejak ada Cinta.”
Tanpa membalas apa yang dikatakan Donna, Havyn kembali memetik gitarnya.
“Havyn.” Nada bicara Donna tiba-tiba berubah serius. “Apa yang kamu lakukan kepada Cinta?”
“Urus saja dirimu sendiri. Tidak usah ikut campur urusan orang!” kata Havyn dengan tandas, tanpa menghentikan jarinya yang sedang memetik gitar.
Tanpa mempedulikan reaksi Havyn, Donna melanjutkan perkataannya. “Kalian berdua baik-baik saja?”
Kali ini Havyn menghentikan petikan pada gitarnya. “Memangnya kenapa?”
Donna melanjutkan. “Akhir-akhir ini Cinta jarang makan dan sepertinya kurang sehat. Katanya sedang diet. Tapi menurutku, sepertinya terlalu berlebihan. Apakah kau yang menyuruhnya berdiet?”
Setelah berpikir sejenak, Havyn menjawab secara perlahan. “Tidak pernah. Menurutku, Cinta lumayan kurus.”
“Jadi, kamu benar-benar tidak tahu, atau tidak peduli? Sebagai pacarnya, seharusnya kamu….”
Jika dibiarkan, Donna tidak akan pernah berhenti menasehatinya. Havyn segera bangkit, menarik Donna dari pembaringannya dan mendorongnya keluar dari kamar, sebelum mengunci pintunya. Tapi Donna tetap saja menggedor-gedor pintu kamar Havyn yang terkunci sambil berteriak-teriak mengancamnya. “Havyn! Awas kalau terjadi sesuatu pada Cinta!”
Sepeninggal Donna, Havyn termenung di kursi meja komputernya, berusaha memikirkan apa yang dikatakan oleh Donna. Setelah beberapa saat, tangannya mulai bergerak, mencari informasi melalui situs pencarian online.
~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar