Tampilkan postingan dengan label online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label online. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

26 (Indonesia)


            Seminggu telah berlalu. Belum juga ada kabar mengenai Cinta, yang membuat Havyn sudah hampir putus asa mencarinya.
Sudah lewat tengah malam, saat Cinta yang merasa bersalah meneleponnya sambil menangis dan berusaha meminta maaf, meskipun tidak bisa mengatakan apa-apa.
            “Sekarang kamu di mana?”
            “Di kos.”
            “Tunggu di depan. Sekarang juga aku ke sana.”
            Havyn segera meluncur dengan mengendarai mobil ayahnya, untuk menemui Cinta. Diparkirnya mobil di depan gang. Dilihatnya Cinta yang berjongkok, seolah meringkuk di depan pagar kosnya.
            “Cinta….” Panggilnya.
            “Havyyyn….” Jawab Cinta yang segera berdiri menyambutnya. Langkahnya terhenti, melihat Havyn yang menghampirinya tanpa mengatakan sepatah kata.
“Maaf….” Lanjutnya sambil terisak.
Havyn tersenyum lega. “Kamu dari mana saja?” Tanya Havyn dengan lembut, sambil menarik Cinta ke dalam perlukannya, tapi Cinta terus saja menangis. “Kamu pasti capek. Aku hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja. Sekarang, cepat masuk dan beristirahat. Besok kita harus kuliah. Oke?”

~*~

Selasa, 09 Oktober 2012

23 (Indonesia)


            Meskipun mendengar langkah Cinta yang menghampirinya, dan berseru memanggil namanya, tapi Havyn tetap saja diam, berbaring di tepi danau sambil memejamkan matanya. Ia baru membuka mata dan memandang Cinta, setelah ia duduk di sampingnya.
            “Tidak ada kelas?” Pertanyaan yang diajukan oleh Cinta pun hanya dijawabnya dengan gelengan kepala.
            Cinta mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. “Kamu kenapa? Sakit?”
            Havyn kembali menggelengkan kepala dan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Aku mengantuk.”
            Lalu, digerakkannya tangan, untuk menggenggam telapak tangan Cinta yang berada di dahinya.
            “Wajar kalau kamu mengantuk. Sudah beberapa malam kamu kurang tidur karena selalu menjemput aku.” Kata Cinta dengan lembut, sambil menggerakkan jemarinya, untuk membelai rambut Havyn. Di luar dugaannya, Havyn kemudian menarik Cinta ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, sehingga Cinta tidak mampu melepaskan dirinya.
            Setelah bosan meronta, Cinta akhirnya hanya bisa bertanya, “Kamu kenapa sih?”
            “Sudah, kamu diam saja. Tidur. Kamu pasti juga capek sekali karena harus bekerja terus sampai menjelang pagi, sementara paginya kamu tetap saja kuliah.” Jawab Havyn dengan lembut, sambil membelai rambutnya.
            Setelah tertidur selama beberapa saat, akhirnya Cinta terbangun, lalu duduk dan memandang Havyn, yang kemudian terbangun, tersenyum dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
            “Ternyata, enak juga tidur di sini. Pantas kamu suka sekali pergi ke sini.”
            Havyn hanya diam, lalu membelai rambutnya.
            “Dulu, aku takut sekali sewaktu kamu mengajakku ke sini, untuk pertama kalinya. Tapi ternyata, semilir angin di tempat ini memang benar-benar nyaman. Untung waktu itu kamu mengajakku ke sini. Jadi sekarang aku tahu ke mana harus mencari kamu kalau tidak ada di kantin. Bahkan SMS-ku juga tidak kamu balas….”
            Cinta terus saja mengoceh dan bertanya, tapi Havyn hanya sesekali memberikan jawaban yang singkat, sambil membelai rambutnya.
            Waktu terus berlalu. Cinta tiba-tiba terdiam selama beberapa saat, sebelum mengubah nada bicaranya, menjadi lebih serius.
            “Aku merasa sangat berterima kasih, karena kamu berusaha membuatku merasa lebih tenang dengan tidak mengungkit kejadian pada malam itu, meskipun aku juga sadar sepenuhnya jika sejak itu, kamu terlihat lebih banyak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Maafkan aku, Havyn. Aku tahu, jika aku tidak seharusnya berbuat seperti itu. Tapi, itu yang harus kulakukan, jika aku ingin tetap mempertahankan pekerjaaanku.”
            Havyn semakin menyadari, betapa besarnya kasih sayang yang dirasakannya terhadap Cinta, juga betapa besarnya beban yang harus dirasakan oleh Cinta, karena pekerjaannya, yang membuatnya merasa tersiksa karena harus selalu menjaga bentuk tubuh, serta penampilannya, dan hal itu membuat Havyn merasa sangat terpukul, karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membantunya.
            Suasana kembali hening, saat mereka berdua tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing, hingga saat Havyn bertanya, “Menurutmu, apakah kita berdua bisa terus bersama? Apakah suatu saat nanti kau mau menikah denganku? Apakah kamu tahu, seberapa besarnya sayangku kepadamu?”
            Cinta yang masih dipelukannya merasa tidak mampu berkata apa-apa selain, “Aku sayang sekali kepada Havyn.” Lalu membenamkan wajahnya lebih jauh ke dalam pelukan Havyn.
            Sore itu, mereka berjalan pulang beriringan, sambil bergandengan tangan.
            “Besok pagi kutunggu di tempat biasa, ya.” Kata Havyn sebelum mereka berpisah di depan gerbang kos Cinta.

~*~

Senin, 08 Oktober 2012

22 (Indonesia)


            Havyn menghentikan mobil di depan gang kos Cinta. Melihat Cinta yang terlelap, Havyn merasa tidak tega membangungkannya. Ditekannya tombol pengendali otomatis, untuk sedikit membuka jendela. Tapi ternyata suaranya justru membangunkan Cinta.
            “Sudah sampai?” Tanya Cinta, setengah bergumam.
            “Sudah. Tapi kalau masih mau tidur di sini, lanjutkan saja tidurnya.” Jawab Havyn dengan lembut, selembut pandangan yang arahkannya kepada Cinta.
            Cinta menggeliat, lalu tertawa kecil dan berkata, “Tapi, bukankah Havyn harus cepat pulang? Mobil ini akan digunakan papa Havyn ke kantor, bukan?”
            Havyn hanya diam, meskipun tetap tersenyum sambil memandangnya.
            “Haavyn. Ada apa?” Cinta bertanya sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Havyn, untuk menyadarkannya. Tapi Havyn justru menggenggamnya, untuk merengkuhnya lebih dekat dan mencium bibirnya, lalu membelainya dengan lembut pada bagian lehernya, lalu turun ke bagian dada.
            Melihat Cinta yang tampak sangat menikmatinya, Havyn merasa semakin kesulitan menahan gairahnya. Disisipkannya salah satu tangan ke balik kemeja Cinta, untuk membelai punggungnya, sementara yang lain melepaskannya kancing kemejanya, sambil tetap menciuminya.
            “Havyn…” Desahnya. Namun secara tiba-tiba Havyn hanya terdiam memandangi tubuh Cinta yang kurus dan menghentikan apa pun yang sedang dilakukannya.

~*~

Minggu, 07 Oktober 2012

21 (Indonesia)


            Cinta yang sibuk menyeka wajahnya dengan tisu sejak mereka menaiki mobil, tiba-tiba menyadari jika Havyn belum juga menyalakan mesin mobilnya. Ditengokkannya kepala, untuk melihat Havyn, yang ternyata sedang memperhatikannya, duduk dengan posisi miring, sambil memandang ke arahnya.
            “Aku tidak apa-apa. Sepertinya masuk angin, karena terlambat makan.” Jelasnya kepada Havyn.
Havyn menggelengkan kepala.  “Jujur, Cinta. Kita sudah berjanji untuk saling berkata jujur.”
Setelah diam selama beberapa saat, Cinta berusaha menjelaskan, sambil terbata-bata. “Ma-maaf. A-aku sudah tidak tahan lagi. A-aku lapar. Tapi aku harus berdiet. Kata manajerku, aku harus mengurangi berat badan sebanyak 6 kilo, agar terlihat lebih cantik dan lebih sering dipilih oleh para desainer. Aku….”
Havyn menarik Cinta ke dalam pelukannya. “Cukup!”
Mendengar nada suara Havyn yang seperti sedang membentaknya, Cinta mulai meneteskan air mata, meskipun tetap berusaha melanjutkan perkataannya dan berusaha mendorong Havyn, agar melepaskan pelukannya. “Ta-tapi, aku bisa mendapatkan lebih banyak uang….”
“Cukup! Jangan dilanjutkan lagi. Apa gunanya uang dan kecantikan, jika hanya membuatmu menderita?!” Havyn tetap tidak melepaskan kedua tangannya dari Cinta. Meskipun Cinta memandangnya dengan sorot yang seolah memohon dan berlinang air mata. Mereka pun saling berpandangan, selama beberapa lama.
“Cinta….” Kali ini, Havyn mengucapkannya dengan lembut dan penuh kehangatan. Kobaran gairah yang membara, terpancar dari matanya yang membuat Cinta ingin membiarkan dirinya luluh dalam dekapan Havyn.
“Havyn….” Desahnya.
Hanya sekejap setelah bibir Havyn mencapai bibirnya, Cinta seolah tersadar lalu mendorong Havyn agar menjauh darinya.
“Sudah malam. Sebaiknya kita pulang.” Kata Cinta, untuk menjawab sorot mata Havyn yang memandangnya dengan penuh tanya.
“Aku hanya tidak ingin ada orang yang penasaran karena melihat mobil ini tidak juga bergerak, lalu mengintip ke dalam mobil dan melihat apa yang kita lakukan.” Lanjutnya sambil tersipu-sipu.
Puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Cinta, Havyn lalu menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya, sambil berkata. “Oke. Sekarang kita pulang.” 

~*~

Jumat, 05 Oktober 2012

19 (Indonesia)


Donna tiba-tiba masuk ke kamar Havyn dan melontarkan tubuhnya ke pembaringan, saat Havyn sedang asyik bersenandung sambil memetik gitar.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Ini kamar laki-laki. Perempuan tidak boleh sembarangan masuk.” Kata Havyn kepada Donna yang berbaring di sampingnya.
Donna membalas, “Kata siapa? Dari kecil aku selalu masuk ke kamarmu seperti ini. Kamu saja yang berubah, sejak ada Cinta.”
Tanpa membalas apa yang dikatakan Donna, Havyn kembali memetik gitarnya.
“Havyn.” Nada bicara Donna tiba-tiba berubah serius. “Apa yang kamu lakukan kepada Cinta?”
“Urus saja dirimu sendiri. Tidak usah ikut campur urusan orang!” kata Havyn dengan tandas, tanpa menghentikan jarinya yang sedang memetik gitar.
Tanpa mempedulikan reaksi Havyn, Donna melanjutkan perkataannya. “Kalian berdua baik-baik saja?”
Kali ini Havyn menghentikan petikan pada gitarnya. “Memangnya kenapa?”
Donna melanjutkan. “Akhir-akhir ini Cinta jarang makan dan sepertinya kurang sehat. Katanya sedang diet. Tapi menurutku, sepertinya terlalu berlebihan. Apakah kau yang menyuruhnya berdiet?”
Setelah berpikir sejenak, Havyn menjawab secara perlahan. “Tidak pernah. Menurutku, Cinta lumayan kurus.”
“Jadi, kamu benar-benar tidak tahu, atau tidak peduli? Sebagai pacarnya, seharusnya kamu….”
Jika dibiarkan, Donna tidak akan pernah berhenti menasehatinya. Havyn segera bangkit, menarik Donna dari pembaringannya dan mendorongnya keluar dari kamar, sebelum mengunci pintunya. Tapi Donna tetap saja menggedor-gedor pintu kamar Havyn yang terkunci sambil berteriak-teriak mengancamnya. “Havyn! Awas kalau terjadi sesuatu pada Cinta!”
Sepeninggal Donna, Havyn termenung di kursi meja komputernya, berusaha memikirkan apa yang dikatakan oleh Donna. Setelah beberapa saat, tangannya mulai bergerak, mencari informasi melalui situs pencarian online.

~*~