Tampilkan postingan dengan label Bayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayu. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2012

15 (Indonesia)


Sepeninggal Cinta, Havyn tetap duduk di kantin, dengan pikiran yang melayang jauh, entah ke mana. Bayu menepuk bahunya.
“Bengong saja!” lalu duduk di sampingnya.
Satria mengambil tempat di depannya, sambil bertanya. “Kenapa sendiri? Mana Cinta?”
“Sudah pulang. Ada urusan.” Meskipun mereka juga di sana pada malam itu, tapi mereka tidak sempat melihat Cinta dan Havyn merasa tidak ingin memberitahukan tentang profesi Cinta kepada mereka.
“Kenapa tidak di antar?” kali ini Bayu yang bertanya.
Satria menimpali. “Benar. Biasanya kamu selalu mengantarkan Cinta ke depan.”
Havyn menjawab. “Sudah ada yang menjemputnya.”
“Wah, dijemput siapa? Jangan-jangan....” Lagi-lagi Bayu menggodanya.
Mereka bertiga terus-menerus bercanda dan tertawa, tanpa sedikit pun membicarakan tentang tragedi yang menimpa Galih pada beberapa hari sebelumnya. Bukan.  Bukan karena mereka tidak menyayangi sahabat mereka, atau mempersalahkannya karena melakukan hal yang kemudian merenggut jiwanya. Mereka bertiga hanya tahu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan.

~*~

Jumat, 28 September 2012

12 (Indonesia)


Satria menyentuh lengan Havyn, yang segera menengok, mengangkat alisnya dan dan memberikan pandangan bertanya-tanya. Diberikannya tanda dengan menunjuk ke arlojinya, sambil menggerakkan bibir, menyebutkan nama Galih. Tapi Havyn hanya mengangkat kedua bahunya, untuk menyatakan jika ia tidak tahu.
Dengan tidak sabar Satria menggoyang-goyangkan kaki sambil memandang ke arah toilet. Menurutnya, Galih sudah terlalu lama berada di sana. Diusahakannya untuk tetap tenang, tapi gagal. Akhirnya, ia berdiri, berbisik di telinga Havyn, untuk memberitahukan maksudnya, lalu bergerak menuju ke toilet, sambil menyeret Bayu yang sepertinya tidak rela meninggalkan gadis-gadis cantik yang sedang dipandanginya.
Bayu masih saja memprotes saat Satria berseru memanggil Galih, sambil memeriksa setiap pintu toilet. Diketuknya salah satu pintu yang terkunci, sambil tetap memanggil Galih.
Sekian lama berlalu, tetap tidak ada jawaban dari balik pintu. Bayu tetap saja mengomel, karena dipaksa menemaninya, tapi Satria tidak terlalu memperhatikannya, karena ia merasa semakin yakin jika sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi pada Galih. Ia pun mulai berusaha mendobrak pintu toilet yang terkunci rapat.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” 
Satria tidak memberikan jawaban apa-apa dan dengan wajah yang tampak cemas, ia tetap berusaha mendorong pintu toilet dengan menggunakan bahunya. Bayu mulai bisa membaca kekhawatiran yang dirasakan oleh Satria, lalu membantunya.
Pintu terbuka. Terlihat Galih dalam posisi duduk pada kloset dengan wajah pusat pasi, tak sadarkan diri.
 “Galih!” seru Satria sambil mengguncang-guncangkan tubuh Galih, membuat dompet yang sebelumnya tergeletak di pangkuan Galih terhempas ke lantai dalam posisi terbuka, sebuah amplop kecil berwarna biru muda meluncur ke luar, bersamaan dengan jatuhnya dompet itu, dengan nama Mabel yang tertera di sana.
Menyadari jika apa yang dilakukannya tidak akan dapat membuat Galih terjaga, ia segera berseru ke arah Bayu yang hanya bisa memandang apa yang dilakukannya terhadap Galih dengan mata yang berkaca-kaca. “Cepat telepon ambulans dan panggil Havyn ke sini!”

~*~

Kamis, 20 September 2012

4 (Indonesia)


“Sampai balik lagi?” Satria tertawa terbahak-bahak.
Havyn berhenti memasukkan buku ke dalam ranselnya, untuk menepuk pundak Satria sambil bersungut-sungut, “Sudah kubilang jangan tertawa.”
“Cie… Jadi setelah ini, sampai jam berapa kalian pacaran di kantin?” tanya Galih.
Havyn balik bertanya, “Kenapa? Mau ikut?”
Bayu menimpali pertanyaan yang diajukan Havyn kepada Galih dengan pertanyaan yang lain.  
“Memangnya, kamu sudah berapa lama berpacaran dengan Mabel?”
“Lima bulan.”
“Wah!” Satria berseru. “Kamu sudah lima bulan berpacaran dengannya, tapi baru menceritakannya kepada kami setelah Havyn mulai berpacaran dengan Cinta? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?”
“Ayo, ceritakan kepada kami.” Bayu ikut memaksa Galih untuk bercerita.
“Tidak mau. Itu bukan urusan kalian.” Kata Galih sambil tertawa-tawa.
“Sedikiiit saja.” Bayu terus memaksa.
Galih hanya menertawakannya.
“Sudah sejauh apa hubungan kalian?” Satria tetap berusaha memancing Galih agar bercerita.
Telepon genggam di saku Havyn berdering, membuat mereka terdiam.
Bayu mengalihkan perhatiannya kepada Havyn, “Cinta?”
Havyn memandang ke layar telepon genggamnya, lalu menjawab telepon dengan malas, tanpa mempedulikan pertanyaan Bayu. “Kenapa Don?”
Meskipun mereka tidak mendengar secara langsung apa yang dikatakan oleh Donna kepada Havyn, tapi jika dilihat dari ekspresi Havyn dan ramainya suara yang terdengar samar dari telepon genggam Havyn, mereka tahu jika Donna sedang memarahi Havyn karena membuat Cinta menunggu terlalu lama.
“Iya…. Sebentar lagi. Aku baru selesai. Oke. Iya, sebentar. Da.” Setelah menutup telepon, Havyn segera berdiri dan memanggul ranselnya sambil berjalan keluar. “Ada yang mau ikut?”
Galih terburu-buru menutup ritsleting ranselnya, lalu bergegas menyusul Havyn. “Havyn, tunggu! Aku juga mau ke kantin.”

~ * ~