Tampilkan postingan dengan label selalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selalu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

30


            Tepuk tangan bergemuruh saat Cinta muncul di panggung dengan bermandikan buih-buih yang beterbangan dan berkilauan bagaikan permata, ditimpa sinar yang terpancar dari kamera berbagai media. Seluruh mata memandang dengan kagum kepadanya. Cinta pun mulai merasa bahwa ia telah menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang menerimanya dan mempersembahkan penghargaan yang tinggi kepadanya.

~*~

Senin, 15 Oktober 2012

29


            Telepon genggam Cinta berbunyi, saat Havyn bermaksud mengantarnya pulang dari kampus.
            “Ada tugas?” Tanya Havyn.
            Cinta menganggukkan kepala.
            Suksesnya penampilan Cinta dalam fashion week pada beberapa waktu yang lalu akhir-akhir membuatnya sering mendapat panggilan. Mungkin karena telah terbiasa. Cinta tidak lagi terlihat sebegitu tertekan saat harus berangkat bekerja. Meskipun demikian, Havyn tetap merasa tertekan. Ia ingin bisa mencukupi kebutuhan Cinta. Ia ingin bekerja. Atau setidak-tidaknya mencoba. Memiliki ayah yang seorang pengusaha sukses membuat Havyn tidak perlu menghitung berapa banyak uang yang dibutuhkannya, karena segala kebutuhannya selalu tercukupi dengan baik. Tapi, melihat apa yang terjadi pada Cinta membuat rasa tanggungjawab yang selalu ditanamkan di dalam dirinya menjadi terluka. Ia ingin bisa melindungi Cinta yang sangat disayanginya.
            “Hari ini kamu juga mulai mengajar?” Tanya Cinta.
            Havyn mengangguk. “Nanti malam akan kuusahakan untuk menjemputmu.”
            “Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Sukses, ya.”
            Mereka pun berpisah di tepi jalan raya. Cinta dijemput untuk memperagakan busana, sementara Havyn menumpang kendaraan umum, untuk menuju ke rumah kos muridnya yang pertama, Desiree.
            Setibanya di sana, Desiree yang mengenakan rok mini dan tank-top mempersilakannya masuk ke dalam kamar. Tapi Havyn merasa ragu, “Memangnya boleh?”
            “Tenang saja. Kosku aman, kok.” Jawab Desire, dengan diiringi oleh senyumnya yang nakal, tapi selalu terlihat manis di mata Havyn.
            Havyn pun duduk pada salah satu kursi yang telah dipersiapkan di meja belajar yang
            “Havyn.” Kata Desiree sambil duduk di kursi yang lain.
“Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengan Havyn. Aku benar-benar tidak menyangka jika kita bisa bertemu lagi.” Lanjutnya sambil mencubit pipi Havyn, yang kemudian membuat wajah Havyn memerah.
“Ha ha ha….” Desiree tertawa senang. “Kamu masih sama saja seperti yang dulu. Sekarang kamu sudah punya pacar atau belum?”
“Sudah.” Jawab Havyn singkat.
“Bagus. Sekarang kamu ganteng sekali. Sayang sekali kalau belum punya.” Kata Desiree, yang kemudian mencium pipinya dan membuat Havyn terkesima.
“Aku juga punya. Tapi  tidak apa-apa.” Lanjutnya.
 “Apanya yang tidak apa-apa? Kita juga harus menjaga perasaan mereka. Apalagi, karena kamu memintaku datang ke sini untuk memberikan kursus.” Havyn segera menyanggah, meskipun tak kuasa menolak Desiree yang telah berpindah ke pangkuannya dan memeluknya dengan erat.
“Aku jarang sekali bisa bertemu dengan pacarku. Jadi, aku merasa kesepian.” Kata Desiree dengan lirih. “Sebentar saja. Aku sangat merindukan Havyn.”
Bagi Havyn, nada bicara Desiree terdengar bagaikan alunan musik yang menyayat perasaan. Namun dan membangkitkan gairahnya.

~*~

Minggu, 14 Oktober 2012

28


            Donna melongokkan kepala ke dalam kamar Havyn, karena melihat Havyn yang hanya diam saja, tanpa memetik gitar yang hampir selalu berada di dalam pelukannya.
            “Kenapa lagi? Bukankah Cinta sudah kembali?”
            “Diam, dan tutup pintunya sewaktu kamu keluar dari kamarku. Terima kasih.”
            “Ha ha ha….” Donna hanya tertawa dan justru masuk ke dalam kamarnya. “Pacar hilang salah, pacar sudah pulang juga masih marah-marah. Sejak punya pacar, kamu seperti berubah menjadi orang yang berbeda. Mana Havyn yang selama ini hanya bisa diam saja? Ha ha ha.”
            “Kalau sesekali tidak ikut campur dengan urusanku, memangnya kamu kenapa? Aku dan Cinta baik-baik saja. Jadi, pikirkan saja hubunganmu dengan Satria.”
            “Ha ha ha. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Satria. Aku hanya ingin memastikan agar kamu dan Cinta sama-sama bahagia.”
            “Selama kamu ada, aku mana mungkin bisa bahagia?”
            “Aku serius. Kalau kau dan Cinta baik-baik saja, apa yang sedang kamu pikirkan?”
            Havyn menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Donna. “Aku bertemu Desiree.”
            “Apa?! Perempuan penggoda yang dulu membuatmu jungkir balik tidak karuan itu? Kamu masih berhubungan dengannya?”
            “Jangan sembarangan bicara! Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mencari Cinta. Dia memintaku untuk memberikan kursus privat kepadanya.”
            “Dan kamu menerimanya?! Kamu sudah punya Cinta!”
            “Tapi aku ingin mencoba bekerja.”
            “Tapi tidak harus dengan menjadi guru privat Desiree, bukan?”
            “Desiree atau bukan, memang apa bedanya?”
            “Sampai kapan kamu membiarkan otakmu diracuni oleh perempuan itu?”
            “Kenapa kamu sebegitu membencinya?”
            “Dari tingginya potongan rok yang dipakainya saja, aku dan semua teman di SMA kita tahu pasti siapa dia yang sebenarnya. Hanya kamu saja yang terus-menerus membelanya, karena kamu menyukainya.”
            “Terserah. Yang pasti aku tidak suka, dan awas, jangan sampai menyakiti Cinta.”

~*~

Sabtu, 13 Oktober 2012

27


            Seperti biasa, Havyn berangkat ke kampus bersama Cinta, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Cinta berjalan sambil bercerita, berusaha menjelaskan apa yang terjadi selama seminggu sebelumnya, sementara Havyn bersikap seolah mendengarkannya, karena pandangan matanya justru menangkap bayangan sesosok gadis yang terburu-buru menaiki bus kampus. Desiree.
Desiree yang menjadi cinta pertamanya, meskipun tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka berdua, dan Havyn masih menyimpan nomor telepon yang diberikannya pada saat mereka bertemu untuk terakhir kalinya, saat ia kebingungan mencari Cinta yang hilang.

~*~

Jumat, 12 Oktober 2012

26 (Indonesia)


            Seminggu telah berlalu. Belum juga ada kabar mengenai Cinta, yang membuat Havyn sudah hampir putus asa mencarinya.
Sudah lewat tengah malam, saat Cinta yang merasa bersalah meneleponnya sambil menangis dan berusaha meminta maaf, meskipun tidak bisa mengatakan apa-apa.
            “Sekarang kamu di mana?”
            “Di kos.”
            “Tunggu di depan. Sekarang juga aku ke sana.”
            Havyn segera meluncur dengan mengendarai mobil ayahnya, untuk menemui Cinta. Diparkirnya mobil di depan gang. Dilihatnya Cinta yang berjongkok, seolah meringkuk di depan pagar kosnya.
            “Cinta….” Panggilnya.
            “Havyyyn….” Jawab Cinta yang segera berdiri menyambutnya. Langkahnya terhenti, melihat Havyn yang menghampirinya tanpa mengatakan sepatah kata.
“Maaf….” Lanjutnya sambil terisak.
Havyn tersenyum lega. “Kamu dari mana saja?” Tanya Havyn dengan lembut, sambil menarik Cinta ke dalam perlukannya, tapi Cinta terus saja menangis. “Kamu pasti capek. Aku hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja. Sekarang, cepat masuk dan beristirahat. Besok kita harus kuliah. Oke?”

~*~