Sepeninggal Cinta, Havyn tetap duduk di kantin, dengan pikiran yang melayang jauh, entah ke mana. Bayu menepuk bahunya.
“Bengong saja!” lalu duduk di sampingnya.
Satria mengambil tempat di depannya, sambil bertanya. “Kenapa sendiri? Mana Cinta?”
“Sudah pulang. Ada urusan.” Meskipun mereka juga di sana pada malam itu, tapi mereka tidak sempat melihat Cinta dan Havyn merasa tidak ingin memberitahukan tentang profesi Cinta kepada mereka.
“Kenapa tidak di antar?” kali ini Bayu yang bertanya.
Satria menimpali. “Benar. Biasanya kamu selalu mengantarkan Cinta ke depan.”
Havyn menjawab. “Sudah ada yang menjemputnya.”
“Wah, dijemput siapa? Jangan-jangan....” Lagi-lagi Bayu menggodanya.
Mereka bertiga terus-menerus bercanda dan tertawa, tanpa sedikit pun membicarakan tentang tragedi yang menimpa Galih pada beberapa hari sebelumnya. Bukan. Bukan karena mereka tidak menyayangi sahabat mereka, atau mempersalahkannya karena melakukan hal yang kemudian merenggut jiwanya. Mereka bertiga hanya tahu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan.
~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar