Tampilkan postingan dengan label Model. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

23 (Indonesia)


            Meskipun mendengar langkah Cinta yang menghampirinya, dan berseru memanggil namanya, tapi Havyn tetap saja diam, berbaring di tepi danau sambil memejamkan matanya. Ia baru membuka mata dan memandang Cinta, setelah ia duduk di sampingnya.
            “Tidak ada kelas?” Pertanyaan yang diajukan oleh Cinta pun hanya dijawabnya dengan gelengan kepala.
            Cinta mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. “Kamu kenapa? Sakit?”
            Havyn kembali menggelengkan kepala dan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Aku mengantuk.”
            Lalu, digerakkannya tangan, untuk menggenggam telapak tangan Cinta yang berada di dahinya.
            “Wajar kalau kamu mengantuk. Sudah beberapa malam kamu kurang tidur karena selalu menjemput aku.” Kata Cinta dengan lembut, sambil menggerakkan jemarinya, untuk membelai rambut Havyn. Di luar dugaannya, Havyn kemudian menarik Cinta ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, sehingga Cinta tidak mampu melepaskan dirinya.
            Setelah bosan meronta, Cinta akhirnya hanya bisa bertanya, “Kamu kenapa sih?”
            “Sudah, kamu diam saja. Tidur. Kamu pasti juga capek sekali karena harus bekerja terus sampai menjelang pagi, sementara paginya kamu tetap saja kuliah.” Jawab Havyn dengan lembut, sambil membelai rambutnya.
            Setelah tertidur selama beberapa saat, akhirnya Cinta terbangun, lalu duduk dan memandang Havyn, yang kemudian terbangun, tersenyum dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
            “Ternyata, enak juga tidur di sini. Pantas kamu suka sekali pergi ke sini.”
            Havyn hanya diam, lalu membelai rambutnya.
            “Dulu, aku takut sekali sewaktu kamu mengajakku ke sini, untuk pertama kalinya. Tapi ternyata, semilir angin di tempat ini memang benar-benar nyaman. Untung waktu itu kamu mengajakku ke sini. Jadi sekarang aku tahu ke mana harus mencari kamu kalau tidak ada di kantin. Bahkan SMS-ku juga tidak kamu balas….”
            Cinta terus saja mengoceh dan bertanya, tapi Havyn hanya sesekali memberikan jawaban yang singkat, sambil membelai rambutnya.
            Waktu terus berlalu. Cinta tiba-tiba terdiam selama beberapa saat, sebelum mengubah nada bicaranya, menjadi lebih serius.
            “Aku merasa sangat berterima kasih, karena kamu berusaha membuatku merasa lebih tenang dengan tidak mengungkit kejadian pada malam itu, meskipun aku juga sadar sepenuhnya jika sejak itu, kamu terlihat lebih banyak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Maafkan aku, Havyn. Aku tahu, jika aku tidak seharusnya berbuat seperti itu. Tapi, itu yang harus kulakukan, jika aku ingin tetap mempertahankan pekerjaaanku.”
            Havyn semakin menyadari, betapa besarnya kasih sayang yang dirasakannya terhadap Cinta, juga betapa besarnya beban yang harus dirasakan oleh Cinta, karena pekerjaannya, yang membuatnya merasa tersiksa karena harus selalu menjaga bentuk tubuh, serta penampilannya, dan hal itu membuat Havyn merasa sangat terpukul, karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membantunya.
            Suasana kembali hening, saat mereka berdua tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing, hingga saat Havyn bertanya, “Menurutmu, apakah kita berdua bisa terus bersama? Apakah suatu saat nanti kau mau menikah denganku? Apakah kamu tahu, seberapa besarnya sayangku kepadamu?”
            Cinta yang masih dipelukannya merasa tidak mampu berkata apa-apa selain, “Aku sayang sekali kepada Havyn.” Lalu membenamkan wajahnya lebih jauh ke dalam pelukan Havyn.
            Sore itu, mereka berjalan pulang beriringan, sambil bergandengan tangan.
            “Besok pagi kutunggu di tempat biasa, ya.” Kata Havyn sebelum mereka berpisah di depan gerbang kos Cinta.

~*~

Rabu, 03 Oktober 2012

17 (Indonesia)


Beberapa saat sebelum Cinta tampil, Havyn sudah tiba di XXX. Latar belakang dan lantai catwalk berkabut putih terang yang ditimpali dengan lampu sorot kebiruan membuat Cinta terlihat bagaikan seorang puteri, yang melangkah di atas awan, dengan gaunnya yang berwarna merah muda, berhiaskan taburan kilau cahaya yang memantul pada kristal dan permata yang bertebaran di permukaannya.
Syukurlah. Havyn merasa khawatir jika Cinta harus mengenakan busana yang minim, seperti saat tampil di XTC. Senyum yang dilayangkannya kepada Havyn dari atas catwalk, menunjukkan bahwa Cinta menyadari keberadaannya di sana, yang kemudian dibalasnya dengan sebuah senyum yang penuh dengan rasa bangga.
“Kutunggu di luar, ya?”
Ajaib! SMS singkat yang dikirimkannya kepada Cinta setelah berakhirnya acara, ternyata benar-benar membuatnya menemui Havyn di lobi depan. Tentunya, setelah ia berganti pakaian dan menghapus riasan tebal dari wajahnya, sehingga tampak seperti remaja puteri pada umumnya.
“Haaavyn.” Cinta menyapanya dengan mata berkaca-kaca dan memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan melalui kata-kata. 
Havyn menyambut Cinta dengan senyum, pelukan dan kecupan pada pipinya, lalu berbisik ke telinganya. “Memangnya kamu sudah boleh keluar?”
“Tapi, aku sudah meminta ijin, untuk menemuimu sebentar.”
“Sebentar? Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu pulang?”
“Serius?”
Havyn mengangguk.
“Coba, aku tanyakan dulu, ya.”
Sekali lagi Havyn mengangguk dan mengatakan, “Kutunggu di sini.”
Cinta kembali menghilang. Tak beberapa lama kemudian, sebuah SMS sampai ke telepon genggam Havyn.
“Boleh!” kata Cinta, melalui pesan tersebut, dan tak beberapa lama kemudian, Cinta kembali muncul dengan menyandang tasnya yang besar, yang kemudian dimasukkan Havyn ke bagasi mobilnya, sambil berjanji kepada Cinta, “Aku tidak akan menceritakan tentang pekerjaanmu kepada siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua.”

~*~

Selasa, 02 Oktober 2012

16 (Indonesia)


“Sekarang aku sudah dirias. Baju yang akan kupakai juga sudah dipersiapkan. Aku hanya tinggal memakainya, dan bersiap-siap untuk tampil. Aku tidak tahu, apakah aku menyukai pekerjaan ini atau tidak. Yang pasti, aku sangat membutuhkannya dan selain Havyn, tidak ada yang mengetahui jika aku melakukannya. Aku khawatir. Banyak orang yang menganggap pekerjaan seperti yang kulakukan tidak cukup baik. Itu yang membuatku tidak memberitahukannya kepada siapa pun juga, dan merasa takut jika Havyn marah. Setelah mengetahuinya, Havyn tidak pernah menghubungiku, dan hanya diam saja sewaktu bertemu di kampus, sebelum kita membicarakannya di kantin. Aku senang karena kita membicarakannya. Terima kasih banyak. Terima kasih, karena kamu tidak marah dan maaf, karena aku harus melakukannya.”
Setelah membaca SMS yang diterimanya dari Cinta, Havyn merasa sangat gelisah. Dengan terburu-buru, ia segera berganti pakaian, lalu meneriakkan permintaan untuk meminjam mobil kepada ayahnya, sambil menyambar kunci mobil yang dimaksud. Hanya ada satu hal yang terlintas di dalam benaknya; Cinta membutuhkan dukunganku, dan aku harus berada di sampingnya.

~*~

Minggu, 30 September 2012

14 (Indonesia)


“Malam itu, kamu pulang jam berapa?” Tanya Havyn setelah menjauhkan piring makan dan meminum es teh manis, kepada Cinta yang duduk diam di sampingnya, sambil memakan es buah.
Jumat malam yang lalu, Galih meninggal karena over dosis, di tempat yang sama, di mana untuk pertama kalinya Havyn melihat Cinta tampil sebagai model di sana dan sejak itu mereka sama sekali tidak pernah bertemu, atau saling menghubungi. Tidak juga pada pagi tadi, di mana mereka tidak berangkat bersama-sama, karena Havyn harus kuliah pagi, sementara Cinta tidak.
“Jam dua.” Jawab Cinta dengan lirih.
“Diantar?”
Cinta mengangguk.
Selama beberapa saat, hanya terdengar hiruk-pikuk ramainya para pedagang dan mahasiswa yang sedang makan siang di kantin, sebelum Cinta berkata. “Selama dua hari ini, aku tidak berani menghubungi kamu.”
“Kenapa?”
“Aku takut kamu marah.”
“Marah? Kenapa harus marah?”
“Aku harus bekerja, untuk mencari uang. Kasihan mama. Sebentar lagi, adikku juga kuliah.”
“Oh.”
Mereka kembali terdiam.
“Sejak kejadian itu, aku juga tidak menghubungi kamu.” Akhirnya Havyn yang memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Kenapa?” Cinta balas bertanya.
Mood-ku tidak terlalu baik setelah melihat apa yang terjadi pada Galih. Aku bahkan juga tidak pergi ke upacara pemakamannya. Kamu?”
“Aku juga tidak.”
 “Kupikir, kamu marah kepadaku.” Kata Cinta.
“Tidak.”
Setelah beberapa saat, Havyn melanjutkan perkataannya. “Selain seperti yang sering diberitakan di media, aku tidak banyak mengerti tentang pekerjaan yang kamu lakukan.”
Cinta menjawab. “Aku juga tidak. Aku hanya tahu jika sebisa mungkin aku harus datang untuk mengikuti fashion show, dirias, memakai apa yang sudah mereka sediakan, lalu tampil.”
Telepon genggam Cinta berbunyi.
Melihat Cinta menghela napas setelah membaca pesan yang diterimanya, Havyn bertanya. “Kenapa? Ada masalah di rumah?”
“Bukan. Dari manajerku. Katanya, nanti malam ada show di XXX.”
“XXX yang di Senayan?”
Cinta mengangguk. Melihat Havyn yang terlihat tidak terlalu suka, ia segera melanjutkan perkataannya. “Toh hari ini sudah tidak ada kuliah.”
“Tapi besok pagi ada kuliah. Nanti malam kamu pulang jam berapa?”
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Lagi pula, mereka pasti mengantarku pulang sampai ke rumah. Aku juga bisa tidur di jalan.”
Telepon genggam Cinta kembali berbunyi. Setelah membaca pesannya, Cinta berpamitan. “Havyn, aku pergi dulu. Tidak usah di antar. Mereka menungguku di area parkir. Nanti SMS, ya?”

~*~