Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

25 (Indonesia)


            Pagi-pagi sekali, Havyn sudah berangkat sambil bersiul-siul gembira. Ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Cinta.  Dilihatnya arloji yang melingkar di tangannya. Baru pukul 6 pagi, dan ia sudah sampai di gang depan jalan setapak menuju ke kampus. Havyn berpikir, bahkan mungkin Cinta juga baru bangun dan tidak ada gunanya membuat Cinta bersiap-siap dalam keadaan terburu-buru, sehingga Havyn memutuskan untuk menunggu.
            Pukul tujuh. Saat di mana mereka biasanya bertemu, meskipun Cinta sering kali terlambat. Ia pun mencoba untuk menelepon Cinta, tapi tidak ada jawaban. Meskipun begitu, Havyn masih memutuskan untuk menunggu.           
            Pukul setengah delapan. Cinta belum juga terlihat. Donna dan teman-teman yang lain sudah lebih dulu berangkat. Bahkan sempat mengejeknya, karena berangkat lebih pagi, tapi belum juga sampai di kampus karena menunggu Cinta. Dicobanya lagi beberapa kali menghubungi Cinta dengan menggunakan telepon genggam, tapi tetap tidak ada jawaban.
            Pukul delapan. Kuliah seharusnya sudah dimulai, dan Cinta belum juga muncul. Havyn memutuskan untuk menjemputnya ke kos, tapi tidak juga mendapatkan kabar yang berarti mengenai keberadaan Cinta. Havyn mulai merasa panik. Di mana Cinta?
            Sudah pukul Sembilan. Havyn memutuskan untuk mencarinya di kampus. Mungkin saja dia lupa jika Havyn menunggunya, untuk berangkat bersama.
            Waktu terus saja berlalu. Havyn benar-benar merasa sangat kebingungan karena tidak berhasil menemukan Cinta, dan tidak ada seseorang pun yang mengetahui di mana keberadaannya. Ia sudah berulang kali datang ke kosnya, mencari di depan gang, ke kantin, dan bahkan juga danau yang sering mereka datangi, tapi ia tidak juga bisa menemukan Cinta.
            “Jadi bagaimana? Kamu masih mau menunggu Cinta di sini? Aku pulang dulu ya.” Ujar Donna.
            “Kalau kamu belum ingin pulang, biar aku saja yang mengantar Donna.” Tambah Satria.
            “Kurasa, sebaiknya kau pulang saja Vyn. Kurasa Cinta tidak apa-apa. Kalau ada masalah, dia pasti menghubungimu, bukan?”
            “Justru itu. Seharian ini, Cinta sama sekali tidak menghubungiku dan bahkan tidak bisa kuhubungi.” Havyn menghela napas panjang, sebelum melanjutkan perkataannya. “Oke, kalian pulang saja. Aku tidak apa-apa. Aku hanya belum ingin pulang saja.”
            Sepeninggal teman-temannya, Havyn duduk di mulut gang, memandang setiap orang yang lewat, dan lagi-lagi merasa kecewa karena Cinta bukan salah satu di antara mereka.
            “Havyn?” tiba-tiba terdengar suara yang halus menyapanya. “Apa kabar?”
            Havyn menoleh untuk memandang si pemilik suara. Seraut wajah yang mungil dengan mata yang besar berbinar sedang memandangnya dengan penuh semangat. “Desiree? Apa kabar juga?”
            “Kamu kuliah di sini? Jurusan apa?”
            “Sastra Cina. Kamu?”
            “Aku di manajemen. Wah, kebetulan. Aku ingin sekali belajar bahasa Mandarin. Bagaimana kalau kamu saja yang mengajarkannya kepadaku?”
            Pembicaraan mereka terus berlanjut. Tak terasa, malam sudah cukup larut, saat Havyn pulang. Cantik, ramah dan pintar. Mengobrol dengan Desiree, bekas teman sebangku yang pernah mengisi mimpi-mimpinya di masa SMA memang selalu menyenangkan.

~*~

Selasa, 09 Oktober 2012

23 (Indonesia)


            Meskipun mendengar langkah Cinta yang menghampirinya, dan berseru memanggil namanya, tapi Havyn tetap saja diam, berbaring di tepi danau sambil memejamkan matanya. Ia baru membuka mata dan memandang Cinta, setelah ia duduk di sampingnya.
            “Tidak ada kelas?” Pertanyaan yang diajukan oleh Cinta pun hanya dijawabnya dengan gelengan kepala.
            Cinta mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. “Kamu kenapa? Sakit?”
            Havyn kembali menggelengkan kepala dan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Aku mengantuk.”
            Lalu, digerakkannya tangan, untuk menggenggam telapak tangan Cinta yang berada di dahinya.
            “Wajar kalau kamu mengantuk. Sudah beberapa malam kamu kurang tidur karena selalu menjemput aku.” Kata Cinta dengan lembut, sambil menggerakkan jemarinya, untuk membelai rambut Havyn. Di luar dugaannya, Havyn kemudian menarik Cinta ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, sehingga Cinta tidak mampu melepaskan dirinya.
            Setelah bosan meronta, Cinta akhirnya hanya bisa bertanya, “Kamu kenapa sih?”
            “Sudah, kamu diam saja. Tidur. Kamu pasti juga capek sekali karena harus bekerja terus sampai menjelang pagi, sementara paginya kamu tetap saja kuliah.” Jawab Havyn dengan lembut, sambil membelai rambutnya.
            Setelah tertidur selama beberapa saat, akhirnya Cinta terbangun, lalu duduk dan memandang Havyn, yang kemudian terbangun, tersenyum dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
            “Ternyata, enak juga tidur di sini. Pantas kamu suka sekali pergi ke sini.”
            Havyn hanya diam, lalu membelai rambutnya.
            “Dulu, aku takut sekali sewaktu kamu mengajakku ke sini, untuk pertama kalinya. Tapi ternyata, semilir angin di tempat ini memang benar-benar nyaman. Untung waktu itu kamu mengajakku ke sini. Jadi sekarang aku tahu ke mana harus mencari kamu kalau tidak ada di kantin. Bahkan SMS-ku juga tidak kamu balas….”
            Cinta terus saja mengoceh dan bertanya, tapi Havyn hanya sesekali memberikan jawaban yang singkat, sambil membelai rambutnya.
            Waktu terus berlalu. Cinta tiba-tiba terdiam selama beberapa saat, sebelum mengubah nada bicaranya, menjadi lebih serius.
            “Aku merasa sangat berterima kasih, karena kamu berusaha membuatku merasa lebih tenang dengan tidak mengungkit kejadian pada malam itu, meskipun aku juga sadar sepenuhnya jika sejak itu, kamu terlihat lebih banyak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Maafkan aku, Havyn. Aku tahu, jika aku tidak seharusnya berbuat seperti itu. Tapi, itu yang harus kulakukan, jika aku ingin tetap mempertahankan pekerjaaanku.”
            Havyn semakin menyadari, betapa besarnya kasih sayang yang dirasakannya terhadap Cinta, juga betapa besarnya beban yang harus dirasakan oleh Cinta, karena pekerjaannya, yang membuatnya merasa tersiksa karena harus selalu menjaga bentuk tubuh, serta penampilannya, dan hal itu membuat Havyn merasa sangat terpukul, karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membantunya.
            Suasana kembali hening, saat mereka berdua tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing, hingga saat Havyn bertanya, “Menurutmu, apakah kita berdua bisa terus bersama? Apakah suatu saat nanti kau mau menikah denganku? Apakah kamu tahu, seberapa besarnya sayangku kepadamu?”
            Cinta yang masih dipelukannya merasa tidak mampu berkata apa-apa selain, “Aku sayang sekali kepada Havyn.” Lalu membenamkan wajahnya lebih jauh ke dalam pelukan Havyn.
            Sore itu, mereka berjalan pulang beriringan, sambil bergandengan tangan.
            “Besok pagi kutunggu di tempat biasa, ya.” Kata Havyn sebelum mereka berpisah di depan gerbang kos Cinta.

~*~

Senin, 01 Oktober 2012

15 (Indonesia)


Sepeninggal Cinta, Havyn tetap duduk di kantin, dengan pikiran yang melayang jauh, entah ke mana. Bayu menepuk bahunya.
“Bengong saja!” lalu duduk di sampingnya.
Satria mengambil tempat di depannya, sambil bertanya. “Kenapa sendiri? Mana Cinta?”
“Sudah pulang. Ada urusan.” Meskipun mereka juga di sana pada malam itu, tapi mereka tidak sempat melihat Cinta dan Havyn merasa tidak ingin memberitahukan tentang profesi Cinta kepada mereka.
“Kenapa tidak di antar?” kali ini Bayu yang bertanya.
Satria menimpali. “Benar. Biasanya kamu selalu mengantarkan Cinta ke depan.”
Havyn menjawab. “Sudah ada yang menjemputnya.”
“Wah, dijemput siapa? Jangan-jangan....” Lagi-lagi Bayu menggodanya.
Mereka bertiga terus-menerus bercanda dan tertawa, tanpa sedikit pun membicarakan tentang tragedi yang menimpa Galih pada beberapa hari sebelumnya. Bukan.  Bukan karena mereka tidak menyayangi sahabat mereka, atau mempersalahkannya karena melakukan hal yang kemudian merenggut jiwanya. Mereka bertiga hanya tahu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan.

~*~

Minggu, 23 September 2012

7 (Indonesia)


Hari sudah hampir gelap saat mereka duduk berdampingan di tepi jalan. Sejak mereka berpacaran, Cinta yang kos di dekat kampus hampir selalu menemani Havyn menunggu bus yang akan membawanya pulang. Cinta mengeluarkan telepon genggam yang berbunyi dari dalam tasnya, kemudian membaca dan membalas pesan yang diterimanya.
Melihat ekspresi Cinta yang kemudian segera melongokkan kepalanya, memandang ke sekitar mereka, Havyn bertanya. “Ada apa?”
“Oh, tidak apa-apa. Tapi, sepertinya aku tidak bisa terlalu lama menemani Havyn.”
“Kenapa?”
“Ada urusan mendadak.”
“Urusan apa? Bukankah keluargamu berada di daerah?”
“Aku harus bekerja. Nanti ada mobil kantor yang akan menjemputku.”
“Bekerja?”
Cinta mengangguk.
 “Oh. Kutemani sampai jemputannya datang, ya?”
Cinta menjawabnya dengan anggukan.
Beberapa saat berlalu. Telepon yang berada di dalam genggaman Cinta berdering. Ia berdiri, setelah menyelesaikan percakapan dengan lawan bicaranya di telepon.
“Jemputannya sudah datang. Aku pergi dulu, ya?” Kata Cinta kepada Havyn.
“Sudah? Di mana?”
“Itu.” Kata Cinta sambil menunjuk ke sebuah mobil yang baru saja menepi, dari jalan raya yang terbentang di depan mereka.
Havyn mengikuti Cinta yang menuju ke mobil tersebut. Tepat di depan pintu belakang mobil itu, Cinta berbalik menghadapnya, untuk berpamitan.
“Sampai besok.”
Havyn mengangguk, lalu mengecup keningnya. Cinta pun masuk ke dalam mobil, yang kemudian membawanya berlalu.

~*~