Telepon genggam Cinta berbunyi, saat Havyn bermaksud mengantarnya pulang dari kampus.
“Ada tugas?” Tanya Havyn.
Cinta menganggukkan kepala.
Suksesnya penampilan Cinta dalam fashion week pada beberapa waktu yang lalu akhir-akhir membuatnya sering mendapat panggilan. Mungkin karena telah terbiasa. Cinta tidak lagi terlihat sebegitu tertekan saat harus berangkat bekerja. Meskipun demikian, Havyn tetap merasa tertekan. Ia ingin bisa mencukupi kebutuhan Cinta. Ia ingin bekerja. Atau setidak-tidaknya mencoba. Memiliki ayah yang seorang pengusaha sukses membuat Havyn tidak perlu menghitung berapa banyak uang yang dibutuhkannya, karena segala kebutuhannya selalu tercukupi dengan baik. Tapi, melihat apa yang terjadi pada Cinta membuat rasa tanggungjawab yang selalu ditanamkan di dalam dirinya menjadi terluka. Ia ingin bisa melindungi Cinta yang sangat disayanginya.
“Hari ini kamu juga mulai mengajar?” Tanya Cinta.
Havyn mengangguk. “Nanti malam akan kuusahakan untuk menjemputmu.”
“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Sukses, ya.”
Mereka pun berpisah di tepi jalan raya. Cinta dijemput untuk memperagakan busana, sementara Havyn menumpang kendaraan umum, untuk menuju ke rumah kos muridnya yang pertama, Desiree.
Setibanya di sana, Desiree yang mengenakan rok mini dan tank-top mempersilakannya masuk ke dalam kamar. Tapi Havyn merasa ragu, “Memangnya boleh?”
“Tenang saja. Kosku aman, kok.” Jawab Desire, dengan diiringi oleh senyumnya yang nakal, tapi selalu terlihat manis di mata Havyn.
Havyn pun duduk pada salah satu kursi yang telah dipersiapkan di meja belajar yang
“Havyn.” Kata Desiree sambil duduk di kursi yang lain.
“Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengan Havyn. Aku benar-benar tidak menyangka jika kita bisa bertemu lagi.” Lanjutnya sambil mencubit pipi Havyn, yang kemudian membuat wajah Havyn memerah.
“Ha ha ha….” Desiree tertawa senang. “Kamu masih sama saja seperti yang dulu. Sekarang kamu sudah punya pacar atau belum?”
“Sudah.” Jawab Havyn singkat.
“Bagus. Sekarang kamu ganteng sekali. Sayang sekali kalau belum punya.” Kata Desiree, yang kemudian mencium pipinya dan membuat Havyn terkesima.
“Aku juga punya. Tapi tidak apa-apa.” Lanjutnya.
“Apanya yang tidak apa-apa? Kita juga harus menjaga perasaan mereka. Apalagi, karena kamu memintaku datang ke sini untuk memberikan kursus.” Havyn segera menyanggah, meskipun tak kuasa menolak Desiree yang telah berpindah ke pangkuannya dan memeluknya dengan erat.
“Aku jarang sekali bisa bertemu dengan pacarku. Jadi, aku merasa kesepian.” Kata Desiree dengan lirih. “Sebentar saja. Aku sangat merindukan Havyn.”
Bagi Havyn, nada bicara Desiree terdengar bagaikan alunan musik yang menyayat perasaan. Namun dan membangkitkan gairahnya.
~*~