Meskipun mendengar langkah Cinta yang menghampirinya, dan berseru memanggil namanya, tapi Havyn tetap saja diam, berbaring di tepi danau sambil memejamkan matanya. Ia baru membuka mata dan memandang Cinta, setelah ia duduk di sampingnya.
“Tidak ada kelas?” Pertanyaan yang diajukan oleh Cinta pun hanya dijawabnya dengan gelengan kepala.
Cinta mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. “Kamu kenapa? Sakit?”
Havyn kembali menggelengkan kepala dan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Aku mengantuk.”
Lalu, digerakkannya tangan, untuk menggenggam telapak tangan Cinta yang berada di dahinya.
“Wajar kalau kamu mengantuk. Sudah beberapa malam kamu kurang tidur karena selalu menjemput aku.” Kata Cinta dengan lembut, sambil menggerakkan jemarinya, untuk membelai rambut Havyn. Di luar dugaannya, Havyn kemudian menarik Cinta ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, sehingga Cinta tidak mampu melepaskan dirinya.
Setelah bosan meronta, Cinta akhirnya hanya bisa bertanya, “Kamu kenapa sih?”
“Sudah, kamu diam saja. Tidur. Kamu pasti juga capek sekali karena harus bekerja terus sampai menjelang pagi, sementara paginya kamu tetap saja kuliah.” Jawab Havyn dengan lembut, sambil membelai rambutnya.
Setelah tertidur selama beberapa saat, akhirnya Cinta terbangun, lalu duduk dan memandang Havyn, yang kemudian terbangun, tersenyum dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
“Ternyata, enak juga tidur di sini. Pantas kamu suka sekali pergi ke sini.”
Havyn hanya diam, lalu membelai rambutnya.
“Dulu, aku takut sekali sewaktu kamu mengajakku ke sini, untuk pertama kalinya. Tapi ternyata, semilir angin di tempat ini memang benar-benar nyaman. Untung waktu itu kamu mengajakku ke sini. Jadi sekarang aku tahu ke mana harus mencari kamu kalau tidak ada di kantin. Bahkan SMS-ku juga tidak kamu balas….”
Cinta terus saja mengoceh dan bertanya, tapi Havyn hanya sesekali memberikan jawaban yang singkat, sambil membelai rambutnya.
Waktu terus berlalu. Cinta tiba-tiba terdiam selama beberapa saat, sebelum mengubah nada bicaranya, menjadi lebih serius.
“Aku merasa sangat berterima kasih, karena kamu berusaha membuatku merasa lebih tenang dengan tidak mengungkit kejadian pada malam itu, meskipun aku juga sadar sepenuhnya jika sejak itu, kamu terlihat lebih banyak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Maafkan aku, Havyn. Aku tahu, jika aku tidak seharusnya berbuat seperti itu. Tapi, itu yang harus kulakukan, jika aku ingin tetap mempertahankan pekerjaaanku.”
Havyn semakin menyadari, betapa besarnya kasih sayang yang dirasakannya terhadap Cinta, juga betapa besarnya beban yang harus dirasakan oleh Cinta, karena pekerjaannya, yang membuatnya merasa tersiksa karena harus selalu menjaga bentuk tubuh, serta penampilannya, dan hal itu membuat Havyn merasa sangat terpukul, karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membantunya.
Suasana kembali hening, saat mereka berdua tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing, hingga saat Havyn bertanya, “Menurutmu, apakah kita berdua bisa terus bersama? Apakah suatu saat nanti kau mau menikah denganku? Apakah kamu tahu, seberapa besarnya sayangku kepadamu?”
Cinta yang masih dipelukannya merasa tidak mampu berkata apa-apa selain, “Aku sayang sekali kepada Havyn.” Lalu membenamkan wajahnya lebih jauh ke dalam pelukan Havyn.
Sore itu, mereka berjalan pulang beriringan, sambil bergandengan tangan.
“Besok pagi kutunggu di tempat biasa, ya.” Kata Havyn sebelum mereka berpisah di depan gerbang kos Cinta.
~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar