“Sampai balik lagi?” Satria tertawa terbahak-bahak.
Havyn berhenti memasukkan buku ke dalam ranselnya, untuk menepuk pundak Satria sambil bersungut-sungut, “Sudah kubilang jangan tertawa.”
“Cie… Jadi setelah ini, sampai jam berapa kalian pacaran di kantin?” tanya Galih.
Havyn balik bertanya, “Kenapa? Mau ikut?”
Bayu menimpali pertanyaan yang diajukan Havyn kepada Galih dengan pertanyaan yang lain.
“Memangnya, kamu sudah berapa lama berpacaran dengan Mabel?”
“Lima bulan.”
“Wah!” Satria berseru. “Kamu sudah lima bulan berpacaran dengannya, tapi baru menceritakannya kepada kami setelah Havyn mulai berpacaran dengan Cinta? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?”
“Ayo, ceritakan kepada kami.” Bayu ikut memaksa Galih untuk bercerita.
“Tidak mau. Itu bukan urusan kalian.” Kata Galih sambil tertawa-tawa.
“Sedikiiit saja.” Bayu terus memaksa.
Galih hanya menertawakannya.
“Sudah sejauh apa hubungan kalian?” Satria tetap berusaha memancing Galih agar bercerita.
Telepon genggam di saku Havyn berdering, membuat mereka terdiam.
Bayu mengalihkan perhatiannya kepada Havyn, “Cinta?”
Havyn memandang ke layar telepon genggamnya, lalu menjawab telepon dengan malas, tanpa mempedulikan pertanyaan Bayu. “Kenapa Don?”
Meskipun mereka tidak mendengar secara langsung apa yang dikatakan oleh Donna kepada Havyn, tapi jika dilihat dari ekspresi Havyn dan ramainya suara yang terdengar samar dari telepon genggam Havyn, mereka tahu jika Donna sedang memarahi Havyn karena membuat Cinta menunggu terlalu lama.
“Iya…. Sebentar lagi. Aku baru selesai. Oke. Iya, sebentar. Da.” Setelah menutup telepon, Havyn segera berdiri dan memanggul ranselnya sambil berjalan keluar. “Ada yang mau ikut?”
Galih terburu-buru menutup ritsleting ranselnya, lalu bergegas menyusul Havyn. “Havyn, tunggu! Aku juga mau ke kantin.”
~ * ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar