Tampilkan postingan dengan label ransel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ransel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

4 (Indonesia)


“Sampai balik lagi?” Satria tertawa terbahak-bahak.
Havyn berhenti memasukkan buku ke dalam ranselnya, untuk menepuk pundak Satria sambil bersungut-sungut, “Sudah kubilang jangan tertawa.”
“Cie… Jadi setelah ini, sampai jam berapa kalian pacaran di kantin?” tanya Galih.
Havyn balik bertanya, “Kenapa? Mau ikut?”
Bayu menimpali pertanyaan yang diajukan Havyn kepada Galih dengan pertanyaan yang lain.  
“Memangnya, kamu sudah berapa lama berpacaran dengan Mabel?”
“Lima bulan.”
“Wah!” Satria berseru. “Kamu sudah lima bulan berpacaran dengannya, tapi baru menceritakannya kepada kami setelah Havyn mulai berpacaran dengan Cinta? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?”
“Ayo, ceritakan kepada kami.” Bayu ikut memaksa Galih untuk bercerita.
“Tidak mau. Itu bukan urusan kalian.” Kata Galih sambil tertawa-tawa.
“Sedikiiit saja.” Bayu terus memaksa.
Galih hanya menertawakannya.
“Sudah sejauh apa hubungan kalian?” Satria tetap berusaha memancing Galih agar bercerita.
Telepon genggam di saku Havyn berdering, membuat mereka terdiam.
Bayu mengalihkan perhatiannya kepada Havyn, “Cinta?”
Havyn memandang ke layar telepon genggamnya, lalu menjawab telepon dengan malas, tanpa mempedulikan pertanyaan Bayu. “Kenapa Don?”
Meskipun mereka tidak mendengar secara langsung apa yang dikatakan oleh Donna kepada Havyn, tapi jika dilihat dari ekspresi Havyn dan ramainya suara yang terdengar samar dari telepon genggam Havyn, mereka tahu jika Donna sedang memarahi Havyn karena membuat Cinta menunggu terlalu lama.
“Iya…. Sebentar lagi. Aku baru selesai. Oke. Iya, sebentar. Da.” Setelah menutup telepon, Havyn segera berdiri dan memanggul ranselnya sambil berjalan keluar. “Ada yang mau ikut?”
Galih terburu-buru menutup ritsleting ranselnya, lalu bergegas menyusul Havyn. “Havyn, tunggu! Aku juga mau ke kantin.”

~ * ~

Senin, 17 September 2012

1 (Indonesia)


Havyn melangkah memasuki halaman sebuah rumah kecil yang tampak sepi dan sudah lama ditinggalkan. Pada beberapa bagian dari permukaan dinding rumah itu tampak lumut yang menghitam, sementara rumput liar yang menjalar seolah menenggelamkan rumpun tanaman hias yang ditanam pada permukaan tanah yang luasnya tidak seberapa. Dari saku celananya, Havyn mengeluarkan sejumlah kunci yang disatukan pada sebuah gantungan penghias berbentuk hati, untuk membuka pintu depan dan memasuki rumah itu.
Setelah pintu terbuka, seberkas cahaya matahari seolah turut mengikutinya, masuk ke dalam ruang tamu yang gelap dan masih dipenuhi oleh berbagai macam perabot rumah tangga bertutup kain yang berselimut debu. Sarang laba-laba tergantung pada hampir setiap sudutnya. Sedangkan lampu ruang tamu tidak juga mau menyala, meskipun Havyn sudah berkali-kali berusaha menekan sakelarnya.

Dibukanya kain yang menyelubungi meja, kemudian meletakkan ransel dan mengeluarkan berbagai macam barang yang dari kantong plastik yang dibawanyanya, hingga ia berhasil menemukan sebuah bola lampu, untuk menggantikan yang lama. Dan selama beberapa jam berikutnya, Havyn melewatkan waktu dengan membersihkan beberapa tempat di rumah itu, meskipun hanya seadanya saja, sekadar untuk membuatnya merasa lebih nyaman. 
Selesai sudah. Dengan lega, Havyn menghempaskan tubuhnya ke sofa. Seulas senyum tipis menghias wajahnya yang tampak tampan dan matang pada usia tiga puluhan, meskipun tampak lelah. Ditebarkannya pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Semua masih terlihat seperti yang dulu, saat ia meninggalkan rumah itu, untuk terakhir kalinya. 
Diulurkannya sebelah tangan, sambil membungkukkan badan, untuk menyalakan laptop yang terletak di atas meja yang berada di depannya, sementara tangan yang lain bergerak menyangga wajahnya yang mengarahkan pandangan mata yang sayu ke permukaan layar yang menyala. Setelah menunggu selama beberapa saat, ia menjajarkan seluruh jemari pada tombol-tombol yang berada di sana, dalam usahanya untuk menuangkan isi pikiran.  
Beberapa saat telah berlalu, tapi Havyn belum juga berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk mengawali kisahnya. Disulutnya sebatang rokok, untuk mengisap asapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya sambil menghela nafas panjang, dengan wajah tengadah menatap ke langit-langit rumah dan punggung yang bersandar pada sofa. Tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan di dalam benaknya; Kenapa aku belum juga bisa menuangkannya ke dalam bentuk cerita? 
Dipindahkannya laptop itu ke pangkuannya, kembali menyandarkan punggung ke sofa, sambil menghisap rokok dengan santai dan mulai membuka foto pertama yang terdapat di dalam folder yang bernama Cinta. Raut wajah Havyn yang mulanya terlihat tegang berubah semakin lembut, saat ia mulai memandang foto-foto tersebut. 
Haaavyn….

Havyn mengalihkan pandangan dari layar dan kembali mengarahkannya ke seluruh penjuru ruangan. Hanya dengan memandang fotonya saja sudah membuat Havyn merasa seperti benar-benar mendengar Cinta yang sedang menyapanya. Memang, seperti itulah nada yang dulu selalu digunakan oleh Cinta untuk menyebut namanya, hampir setiap kali mereka bertemu.

~ * ~