Tampilkan postingan dengan label jemput. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jemput. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

20 (Indonesia)


Sejak itu, menjemput Cinta dan mengantarkannya pulang setelah mengikuti peragaan busana seolah telah menjadi rutinitas Havyn yang baru. Tapi, tidak seperti biasanya. Malam itu Cinta yang duduk di sampingnya tampak gelisah.
“Kenapa sayang?” tanya Havyn dengan lembut.
“Boleh memutar balik ke supermarket 24 jam yang kita lewati tadi? Aku lapar.” Jawabnya dengan lirih.
Di supermarket itu, mereka membeli beberapa buah roti dan minuman, lalu memakannya sambil duduk di area parkirnya. Cinta memakan rotinya dengan lahap, sehingga Havyn merasa tidak tahan untuk tidak memandangnya sambil tersenyum. Merasa dilihat, Cinta berbalik memandangnya sambil bertanya.
“Kenapa? Aku lucu, ya?”
“Bukan. Aku suka melihatmu makan. Akhir-akhir ini, aku jarang melihatnya.”
Seketika, Cinta menghentikan makannya, lalu meletakkan setengah bagian dari roti yang dimakannya tadi dan berdiri.
Havyn bertanya, “Mau ke mana?”
“Numpang ke Toilet. Mau ikut? Hahaha.” Jawab Cinta, menggodanya.
Havyn hanya tersenyum, lalu membereskan plastik, sisa makanan dan botol minuman yang tadi mereka pergunakan. Keinginan untuk buang air kecil membuatnya mengurungkan niat untuk menunggu Cinta di mobil, lalu masuk kembali ke supermarket tersebut dan bertanya kepada penjaga kasirnya. “Boleh numpang ke toilet, mas?”
“Oh, silahkan. Lurus saja ke dalam. Toiletnya ada di bawah tangga.” Jawab petugas kasir.
Sambil mengucapkan terima kasih, Havyn mengikuti arah yang ditunjukkan oleh penjaga kasir. Dari arah kamar mandi, di sela-sela bunyi kucuran air yang mengalir jatuh, didengarnya suara seseorang yang seperti sedang memuntahkan sesuatu.
“Cinta….” Havyn tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat melihat Cinta keluar dari toilet dengan wajah yang basah dan mata memerah, tapi tetap berusaha tersenyum kepadanya.
“Havyn juga mau ke toilet?”
“Tidak.” Hilang sudah keinginan Havyn untuk buang air kecil.
“Kamu sudah?”
Cinta mengangguk.
Saat memandang tubuh Cinta yang berjalan di depannya, tiba-tiba, Havyn menyadari. Apa yang dikatakan Donna memang benar. Sekarang Cinta kurus sekali.

~*~

Minggu, 23 September 2012

7 (Indonesia)


Hari sudah hampir gelap saat mereka duduk berdampingan di tepi jalan. Sejak mereka berpacaran, Cinta yang kos di dekat kampus hampir selalu menemani Havyn menunggu bus yang akan membawanya pulang. Cinta mengeluarkan telepon genggam yang berbunyi dari dalam tasnya, kemudian membaca dan membalas pesan yang diterimanya.
Melihat ekspresi Cinta yang kemudian segera melongokkan kepalanya, memandang ke sekitar mereka, Havyn bertanya. “Ada apa?”
“Oh, tidak apa-apa. Tapi, sepertinya aku tidak bisa terlalu lama menemani Havyn.”
“Kenapa?”
“Ada urusan mendadak.”
“Urusan apa? Bukankah keluargamu berada di daerah?”
“Aku harus bekerja. Nanti ada mobil kantor yang akan menjemputku.”
“Bekerja?”
Cinta mengangguk.
 “Oh. Kutemani sampai jemputannya datang, ya?”
Cinta menjawabnya dengan anggukan.
Beberapa saat berlalu. Telepon yang berada di dalam genggaman Cinta berdering. Ia berdiri, setelah menyelesaikan percakapan dengan lawan bicaranya di telepon.
“Jemputannya sudah datang. Aku pergi dulu, ya?” Kata Cinta kepada Havyn.
“Sudah? Di mana?”
“Itu.” Kata Cinta sambil menunjuk ke sebuah mobil yang baru saja menepi, dari jalan raya yang terbentang di depan mereka.
Havyn mengikuti Cinta yang menuju ke mobil tersebut. Tepat di depan pintu belakang mobil itu, Cinta berbalik menghadapnya, untuk berpamitan.
“Sampai besok.”
Havyn mengangguk, lalu mengecup keningnya. Cinta pun masuk ke dalam mobil, yang kemudian membawanya berlalu.

~*~