Minggu, 30 September 2012

14 (Indonesia)


“Malam itu, kamu pulang jam berapa?” Tanya Havyn setelah menjauhkan piring makan dan meminum es teh manis, kepada Cinta yang duduk diam di sampingnya, sambil memakan es buah.
Jumat malam yang lalu, Galih meninggal karena over dosis, di tempat yang sama, di mana untuk pertama kalinya Havyn melihat Cinta tampil sebagai model di sana dan sejak itu mereka sama sekali tidak pernah bertemu, atau saling menghubungi. Tidak juga pada pagi tadi, di mana mereka tidak berangkat bersama-sama, karena Havyn harus kuliah pagi, sementara Cinta tidak.
“Jam dua.” Jawab Cinta dengan lirih.
“Diantar?”
Cinta mengangguk.
Selama beberapa saat, hanya terdengar hiruk-pikuk ramainya para pedagang dan mahasiswa yang sedang makan siang di kantin, sebelum Cinta berkata. “Selama dua hari ini, aku tidak berani menghubungi kamu.”
“Kenapa?”
“Aku takut kamu marah.”
“Marah? Kenapa harus marah?”
“Aku harus bekerja, untuk mencari uang. Kasihan mama. Sebentar lagi, adikku juga kuliah.”
“Oh.”
Mereka kembali terdiam.
“Sejak kejadian itu, aku juga tidak menghubungi kamu.” Akhirnya Havyn yang memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Kenapa?” Cinta balas bertanya.
Mood-ku tidak terlalu baik setelah melihat apa yang terjadi pada Galih. Aku bahkan juga tidak pergi ke upacara pemakamannya. Kamu?”
“Aku juga tidak.”
 “Kupikir, kamu marah kepadaku.” Kata Cinta.
“Tidak.”
Setelah beberapa saat, Havyn melanjutkan perkataannya. “Selain seperti yang sering diberitakan di media, aku tidak banyak mengerti tentang pekerjaan yang kamu lakukan.”
Cinta menjawab. “Aku juga tidak. Aku hanya tahu jika sebisa mungkin aku harus datang untuk mengikuti fashion show, dirias, memakai apa yang sudah mereka sediakan, lalu tampil.”
Telepon genggam Cinta berbunyi.
Melihat Cinta menghela napas setelah membaca pesan yang diterimanya, Havyn bertanya. “Kenapa? Ada masalah di rumah?”
“Bukan. Dari manajerku. Katanya, nanti malam ada show di XXX.”
“XXX yang di Senayan?”
Cinta mengangguk. Melihat Havyn yang terlihat tidak terlalu suka, ia segera melanjutkan perkataannya. “Toh hari ini sudah tidak ada kuliah.”
“Tapi besok pagi ada kuliah. Nanti malam kamu pulang jam berapa?”
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Lagi pula, mereka pasti mengantarku pulang sampai ke rumah. Aku juga bisa tidur di jalan.”
Telepon genggam Cinta kembali berbunyi. Setelah membaca pesannya, Cinta berpamitan. “Havyn, aku pergi dulu. Tidak usah di antar. Mereka menungguku di area parkir. Nanti SMS, ya?”

~*~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar