Tampilkan postingan dengan label rambut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rambut. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

13 (Indonesia)


Tepuk tangan bergemuruh bersamaan dengan munculnya seorang model belia, dengan busana gemerlap keperakan yang menyilaukan mata dan hanya menutup tubuh dari dada hingga sedikit di bawah pangkal paha. Hiasan rambut yang dikenakannya terbuat dari bulu-bulu putih yang lembut. Beberapa dari ujungnya yang panjang menjuntai, melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya, seolah saling berlomba, untuk dapat membelai permukaan bahunya yang terbuka. 
Indah dan sangat menggoda. Havyn tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dalam seketika, ia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Havyn berdiri dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Hingar bingar musik yang memekakkan telinga tidak lagi bisa didengarnya. Yang dapat ditangkap oleh panca inderanya hanyalah sosok model berwajah manis itu, yang sedang melangkah setapak demi setapak menuju ke arahnya, dengan diiringi oleh irama detak jantungnya.
Meskipun ingin berteriak, tapi Havyn hanya mampu menggerakkan bibirnya. “Cinta….”
Selama beberapa detik pandangan mereka bertemu, tapi tidak lama, karena Cinta segera membuang muka, kembali tersenyum dan melangkahkan kaki-kakinya yang panjang, untuk melanjutkan tugasnya.

~*~

Selasa, 18 September 2012

2 (Indonesia)


Tapi, sebenarnya kurang tepat jika dikatakan bersama-sama. Tubuh Cinta yang tinggi dan ramping tak juga mampu mengimbangi langkah kakinya yang lebih lebar, dan hal itu selalu membuatnya mengomel di sela-sela nafasnya yang memburu, saat mengejar Havyn. 
“Haaavyn…. Jangan terlalu cepat. Tunggu aku!”
Havyn tahu, ia tidak seharusnya meninggalkan Cinta, atau menunjukkan sikap seolah tidak peduli, dengan terus berjalan meninggalkannya hingga tiba di area parkir halaman depan kampus, lalu menunggunya di sana sambil berseru mengatakan, “Kamu mau terlambat kuliah? Ayo cepat!”
Tapi Havyn suka melihat wajah Cinta yang cemberut, dengan bibir yang seketika merapat, tapi mekar seperti sedang dikuncir, tepat di bawah hidungnya. Dengan ekspresi yang seperti itu, Cinta selalu terlihat lucu sekali. Dan biasanya, Havyn tidak bisa terlalu lama mengamatinya, karena Donna seringkali muncul dan memarahinya.
“Havyn! Kamu mengganggu Cinta lagi?!” 
Donna adalah salah satu sepupu yang tinggal di rumah Havyn, yang juga teman sekelas Cinta. Sejak berkenalan dengan Cinta, Donna selalu saja siap membela Cinta, meskipun harus melawan Havyn. Kedua orangtua Donna meninggal dalam sebuah kecelakaan, saat ia dan adiknya masih kecil. Sejak itu, mereka berdua tinggal bersama keluarga Havyn.  
“Kalau kamu mengganggu Cinta….”
“Sembarangan. Kata siapa?!”
“Coba saja kalau berani! Awas, ya!”
Berbeda dengan Donna yang cantik, tapi galak, Cinta tidak terlalu cantik, tapi manis, polos dan sering melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan, meskipun sebenarnya sangat pintar. Sayangnya, Cinta adalah tipe gadis yang kurang pede. Nilai-nilai yang diperoleh Cinta hampir selalu lebih baik dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Tapi hanya Cinta sendiri yang sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan betapa bagusnya nilai-nilai tersebut. Di kelas, ia tetap saja terus-menerus berusaha memindahkan hampir setiap kata yang diucapkan oleh para dosen ke dalam buku catatannya, sedangkan saat mendekati masa ujian, ia selalu terlihat panik, kemudian juga selalu menunjukkan ekspresi yang takjub bercampur lega, setiap kali melihat hasilnya. “Untung lulus. Yang penting aku lulus.”
Apapun yang dilakukannya, Cinta akan selalu berusaha dengan sebaik mungkin, kemudian menerima apapun hasil dari usahanya. Hal yang sama terjadi saat Cinta berusaha meyakinkan Donna, bahwa Havyn tidak mengganggunya, untuk melerai mereka  berdua, sebelum mereka bertiga mengikuti kuliah di kelas mereka masing-masing. Havyn adalah mahasiswa jurusan bahasa Mandarin, sementara Cinta dan Donna, mengambil jurusan bahasa Inggris. 

~ * ~