Tampilkan postingan dengan label Putih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

13 (Indonesia)


Tepuk tangan bergemuruh bersamaan dengan munculnya seorang model belia, dengan busana gemerlap keperakan yang menyilaukan mata dan hanya menutup tubuh dari dada hingga sedikit di bawah pangkal paha. Hiasan rambut yang dikenakannya terbuat dari bulu-bulu putih yang lembut. Beberapa dari ujungnya yang panjang menjuntai, melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya, seolah saling berlomba, untuk dapat membelai permukaan bahunya yang terbuka. 
Indah dan sangat menggoda. Havyn tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dalam seketika, ia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Havyn berdiri dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Hingar bingar musik yang memekakkan telinga tidak lagi bisa didengarnya. Yang dapat ditangkap oleh panca inderanya hanyalah sosok model berwajah manis itu, yang sedang melangkah setapak demi setapak menuju ke arahnya, dengan diiringi oleh irama detak jantungnya.
Meskipun ingin berteriak, tapi Havyn hanya mampu menggerakkan bibirnya. “Cinta….”
Selama beberapa detik pandangan mereka bertemu, tapi tidak lama, karena Cinta segera membuang muka, kembali tersenyum dan melangkahkan kaki-kakinya yang panjang, untuk melanjutkan tugasnya.

~*~

Kamis, 27 September 2012

11 (Indonesia)


Galih masuk ke salah satu toilet yang tersedia. Setelah mengunci pintu, ia mengeluarkan sebungkus plastik kecil berisi bubuk yang berwarna putih. Dituangkannya sebagian dari bubuk tersebut pada permukaan tutup toilet, lalu dikeluarkannya sebuah kartu dari dompet, untuk membelahnya menjadi dua baris yang kurang lebih selebar sekitar setengah sentimeter, dengan panjang yang kurang lebih sama dengan pulpen.
Puas melihat apa yang dilakukannya, Galih kembali membuka dompet, untuk mengeluarkan lembaran uang baru yang masih licin, untuk digulung hingga berbentuk seperti sedotan. Ditutupnya salah satu hidung dengan menggunakan jari, dan menggunakan lubang hidung yang lain untuk mengisap bubuk tersebut. Dihembuskannya nafas melalui mulut.
Galih tidak bisa mengerti, mengapa kedua orangtuanya terlalu sibuk dan selalu bertengkar saat bertemu. Ia tidak bisa mengerti, mengapa orangtua Mabel menginginkan agar ia menjauh dari puteri mereka, meskipun Galih sangat menyayanginya dan ia juga tidak bisa mengerti, mengapa Mabel tidak juga bisa memahaminya.
Ditutupnya kembali salah satu hidung dengan menggunakan jari, lalu menggunakan lubang hidung yang lain untuk mengisap bubuk putih yang membuatnya merasa lebih gembira, sebelum mengulangi apa yang dilakukannya. Merasa senang, Galih terus-menerus mengulangi apa yang dilakukannya.

~*~