Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

21 (Indonesia)


            Cinta yang sibuk menyeka wajahnya dengan tisu sejak mereka menaiki mobil, tiba-tiba menyadari jika Havyn belum juga menyalakan mesin mobilnya. Ditengokkannya kepala, untuk melihat Havyn, yang ternyata sedang memperhatikannya, duduk dengan posisi miring, sambil memandang ke arahnya.
            “Aku tidak apa-apa. Sepertinya masuk angin, karena terlambat makan.” Jelasnya kepada Havyn.
Havyn menggelengkan kepala.  “Jujur, Cinta. Kita sudah berjanji untuk saling berkata jujur.”
Setelah diam selama beberapa saat, Cinta berusaha menjelaskan, sambil terbata-bata. “Ma-maaf. A-aku sudah tidak tahan lagi. A-aku lapar. Tapi aku harus berdiet. Kata manajerku, aku harus mengurangi berat badan sebanyak 6 kilo, agar terlihat lebih cantik dan lebih sering dipilih oleh para desainer. Aku….”
Havyn menarik Cinta ke dalam pelukannya. “Cukup!”
Mendengar nada suara Havyn yang seperti sedang membentaknya, Cinta mulai meneteskan air mata, meskipun tetap berusaha melanjutkan perkataannya dan berusaha mendorong Havyn, agar melepaskan pelukannya. “Ta-tapi, aku bisa mendapatkan lebih banyak uang….”
“Cukup! Jangan dilanjutkan lagi. Apa gunanya uang dan kecantikan, jika hanya membuatmu menderita?!” Havyn tetap tidak melepaskan kedua tangannya dari Cinta. Meskipun Cinta memandangnya dengan sorot yang seolah memohon dan berlinang air mata. Mereka pun saling berpandangan, selama beberapa lama.
“Cinta….” Kali ini, Havyn mengucapkannya dengan lembut dan penuh kehangatan. Kobaran gairah yang membara, terpancar dari matanya yang membuat Cinta ingin membiarkan dirinya luluh dalam dekapan Havyn.
“Havyn….” Desahnya.
Hanya sekejap setelah bibir Havyn mencapai bibirnya, Cinta seolah tersadar lalu mendorong Havyn agar menjauh darinya.
“Sudah malam. Sebaiknya kita pulang.” Kata Cinta, untuk menjawab sorot mata Havyn yang memandangnya dengan penuh tanya.
“Aku hanya tidak ingin ada orang yang penasaran karena melihat mobil ini tidak juga bergerak, lalu mengintip ke dalam mobil dan melihat apa yang kita lakukan.” Lanjutnya sambil tersipu-sipu.
Puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Cinta, Havyn lalu menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya, sambil berkata. “Oke. Sekarang kita pulang.” 

~*~

Kamis, 27 September 2012

11 (Indonesia)


Galih masuk ke salah satu toilet yang tersedia. Setelah mengunci pintu, ia mengeluarkan sebungkus plastik kecil berisi bubuk yang berwarna putih. Dituangkannya sebagian dari bubuk tersebut pada permukaan tutup toilet, lalu dikeluarkannya sebuah kartu dari dompet, untuk membelahnya menjadi dua baris yang kurang lebih selebar sekitar setengah sentimeter, dengan panjang yang kurang lebih sama dengan pulpen.
Puas melihat apa yang dilakukannya, Galih kembali membuka dompet, untuk mengeluarkan lembaran uang baru yang masih licin, untuk digulung hingga berbentuk seperti sedotan. Ditutupnya salah satu hidung dengan menggunakan jari, dan menggunakan lubang hidung yang lain untuk mengisap bubuk tersebut. Dihembuskannya nafas melalui mulut.
Galih tidak bisa mengerti, mengapa kedua orangtuanya terlalu sibuk dan selalu bertengkar saat bertemu. Ia tidak bisa mengerti, mengapa orangtua Mabel menginginkan agar ia menjauh dari puteri mereka, meskipun Galih sangat menyayanginya dan ia juga tidak bisa mengerti, mengapa Mabel tidak juga bisa memahaminya.
Ditutupnya kembali salah satu hidung dengan menggunakan jari, lalu menggunakan lubang hidung yang lain untuk mengisap bubuk putih yang membuatnya merasa lebih gembira, sebelum mengulangi apa yang dilakukannya. Merasa senang, Galih terus-menerus mengulangi apa yang dilakukannya.

~*~