Selasa, 25 September 2012

9 (Indonesia)


Sambil duduk sendiri di kantin, Havyn memakan sepiring nasi goreng dengan lahap, tanpa menyadari kedatangan Cinta yang secara tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
“Hai.” Sapa Cinta.
“Sudah makan?” Tanya Havyn kepadanya, lalu memasukkan kerupuk ke dalam mulutnya.
Cinta menggeleng, kemudian berpaling, untuk memandang sederetan papan bertuliskan menu yang disajikan oleh para pedagang, lalu beranjak ke salah satu pedagang dan kembali dengan membawa segelas es jeruk.
“Aku sedang tidak ingin makan.”
“Memangnya kamu tidak lapar?”
Cinta hanya menggelengkan kepala. Dihisapnya es jeruk tersebut dengan menggunakan sedotan, lalu menatap es jeruk yang sedang diaduknya dengan sedotan.
“Sepertinya Galih dan Mabel bertengkar.” Cinta berkata dengan lirih.
Havyn menjauhkan piringnya yang sudah kosong dan meminum es teh manisnya, sebelum melayangkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Dilihatnya Galih dan Mabel yang duduk berdua di meja dekat penjual minuman dengan ekspresi serius. Dielusnya punggung Cinta, untuk menenangkannya.
“Ah, tidak. Mereka hanya sedang membicarakan sesuatu.” Katanya, untuk menenangkan Cinta.
Cinta hanya diam. Saat memesan minuman, ia sempat mendengar pembicaraan mereka, meskipun hanya sekilas. Mabel marah kepada Galih dan Galih sedang berusaha membujuknya.

~*~

Senin, 24 September 2012

8 (Indonesia)


            Malam sudah hampir larut saat Galih turun dari mikrolet, di depan gang rumah Mabel. Sepi. Bahkan satu pun dari tukang ojek yang biasa mangkal di sana juga tidak terlihat sama sekali. Galih menyeringai, lalu berjalan menuju ke bangku kayu panjang yang ‘tertanam’ di pangkalan ojek. Langkahnya gontai, sementara wajahnya tampak mengantuk, namun sesekali menampakkan senyum yang kosong. Usahanya untuk mengeluarkan telepon genggam dari saku pun harus diulanginya berkali-kali, sambil terkekeh-kekeh menertawakan dirinya sendiri, sebelum akhirnya berhasil menelepon Mabel.
            “Halo. Kenapa sayang? ”
            “Pangkalan ojek depan gang.”
            “Sudah selarut ini? Kamu dari mana?”
            Low bat. Ke sini ya.”
            “A….” sambungan terputus sebelum sebelum Mabel sempat menjawab. Setelah berkali-kali gagal menghubungi nomor telepon genggam Galih, akhirnya Mabel mengenakan jaket dan keluar.
            “Mau ke mana Bel?” tanya papanya yang sedang menonton TV.  
            “Cari tukang bakso.” Jawab Mabel sekenanya.
            Setibanya di pangkalan ojek, dilihatnya Galih terlentang di bangku kayu, dengan santai mengisap sesuatu yang terlihat seperti rokok, tapi memiliki bau yang jauh lebih tajam. Segera dihampirinya Galih, lalu merebut ganja yang berada di tangannya dan dilemparkannya sejauh mungkin.
            “Kamu apa-apaan?!” katanya, setengah membentak.
            Meskipun tampak terkejut, tapi Galih hanya menyeringai dan mencoba untuk duduk.
            “Santai, sayang.” Katanya berusaha menenangkan Mabel. Masih sambil sesekali tertawa-tawa tanpa suara.
            Mabel memandangnya dengan sorot mata prihatin, setengah berkaca-kaca, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
            Sebuah Mikrolet lewat, memberikan tanda dengan lampu sorotnya, untuk menawarkan tumpangan kepada mereka.
            “Kamu tahu? Perilakumu yang seperti ini yang membuat papa dan mama tidak menyukaimu.” Kata Mabel, setelah Mikrolet itu berlalu.
            “Tapi aku tetap sayang kamu, Bel.” Galih mengulurkannya tangan, untuk menggenggam tangan Mabel dan menariknya lebih dekat. Tapi Mabel menepisnya dan berkata, “Kamu bahkan tidak mengerti bagaimana caranya menyayangi dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kamu bisa menyayangi aku?”

~*~

Minggu, 23 September 2012

7 (Indonesia)


Hari sudah hampir gelap saat mereka duduk berdampingan di tepi jalan. Sejak mereka berpacaran, Cinta yang kos di dekat kampus hampir selalu menemani Havyn menunggu bus yang akan membawanya pulang. Cinta mengeluarkan telepon genggam yang berbunyi dari dalam tasnya, kemudian membaca dan membalas pesan yang diterimanya.
Melihat ekspresi Cinta yang kemudian segera melongokkan kepalanya, memandang ke sekitar mereka, Havyn bertanya. “Ada apa?”
“Oh, tidak apa-apa. Tapi, sepertinya aku tidak bisa terlalu lama menemani Havyn.”
“Kenapa?”
“Ada urusan mendadak.”
“Urusan apa? Bukankah keluargamu berada di daerah?”
“Aku harus bekerja. Nanti ada mobil kantor yang akan menjemputku.”
“Bekerja?”
Cinta mengangguk.
 “Oh. Kutemani sampai jemputannya datang, ya?”
Cinta menjawabnya dengan anggukan.
Beberapa saat berlalu. Telepon yang berada di dalam genggaman Cinta berdering. Ia berdiri, setelah menyelesaikan percakapan dengan lawan bicaranya di telepon.
“Jemputannya sudah datang. Aku pergi dulu, ya?” Kata Cinta kepada Havyn.
“Sudah? Di mana?”
“Itu.” Kata Cinta sambil menunjuk ke sebuah mobil yang baru saja menepi, dari jalan raya yang terbentang di depan mereka.
Havyn mengikuti Cinta yang menuju ke mobil tersebut. Tepat di depan pintu belakang mobil itu, Cinta berbalik menghadapnya, untuk berpamitan.
“Sampai besok.”
Havyn mengangguk, lalu mengecup keningnya. Cinta pun masuk ke dalam mobil, yang kemudian membawanya berlalu.

~*~

Sabtu, 22 September 2012

6 (Indonesia)


“Havyn, kita mau pergi ke mana? Sudah sore. Sebentar lagi gelap. Kampus kita luas sekali. Bagaimana kalau kita tersesat?” Meskipun selalu memprotes, tapi Cinta tetap mengikuti Havyn, yang terus berjalan menelusuri jalan setapak, menembus hutan yang sepi. Tidak terlihat siapa pun di sana. Hanya ada mereka berdua, dengan diiringi suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak saat mereka melangkahkan kaki, serta burung-burung yang beterbangan dan hinggap di atas sana, pada dahan pepohonan.
“Baru jam dua. Sekarang masih siang. Tenang saja. Aku sudah sering ke sini.” Jawab Havyn yang berjalan di depannya.
Sambil tetap berjalan perlahan mengikuti Havyn, Cinta membaca kembali beberapa SMS yang diterimanya tadi, yang kesemuanya dikirimkan oleh Donna.
“Apa? Setelah makan Havyn mengajakmu ke mana?”
“Berjalan-jalan? Ke mana?”
“Kenapa kamu tidak menanyakannya?”
“Ya sudah, ikuti saja. Tapi, jangan sampai dia berbuat macam-macam.”
“Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku.”
Cinta kembali mengangkat wajahnya, memandang punggung Havyn yang berjalan di depannya. “Sebenarnya, kita mau ke mana? Di sini sepi sekali. Tidak ada siapa-siapa….”
Tiba-tiba Havyn menghentikan langkah, membalikkan badan dan mengulurkan tangan ke arah Cinta, saat Cinta tiba dihadapannya. Secara refleks Cinta bergerak mundur, menjauh, sambil memandang Havyn dengan wajah ketakutan. Tapi, bukan ekspresi jahat yang tampak pada wajah Havyn. Ia justru tersenyum dengan lembut, sementara matanya yang memandang Cinta memancarkan sorot yang hangat.
“Kalau takut, kamu boleh menggandeng tanganku.”
“Oh….” Setelah mengetahui jika Havyn hanya ingin menggandeng tangannya saja, Cinta merasa lebih tenang. Dengan ragu, diulurkannya tangan, untuk menyambut uluran tangan Havyn. Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka. Perlahan, secara beriringan, sambil bergandengan tangan, tanpa berkata-kata.
Tidak lama kemudian di depan mereka terhampar sebuah danau. Dengan santai Havyn melepaskan genggamannya pada tangan Cinta, membaringkan tubuhnya di atas rerumputan, lalu memejamkan matanya. Cinta tampak kebingungan, kemudian duduk di sampingnya.
“Tadi kita berjalan sebegitu jauh. Apakah tempat ini jauh dari kampus?” Tanya Cinta kepada Havyn.
“Kita juga masih di dalam kompleks kampus.” Jawab Havyn. Tetap sambil memejamkan mata.
“Masa? Tapi tadi kita berjalan lama sekali. Pasti jauh, ya.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Sebelum berpacaran denganmu, aku sering tidur sini di sela-sela jam kuliah.”
“Sendiri?”
“Ya.”
“Kamu tidak takut?”
“Takut apa?”
Cinta tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Havyn. Suasana menjadi hening selama beberapa saat.
“Kenapa kamu mengajakku ke sini?” Tanya Cinta.
Havyn menjawab. “Aku hanya merasa aneh jika hanya duduk berdua-duaan di kantin terlalu lama.”
Jawaban Havyn membuatnya terkejut. Secara perlahan Cinta bergeser sedikit menjauh, lalu bertanya,  “Maksudnya?”
 Havyn membuka mata, lalu memandangnya. “Terlalu banyak orang di sana. Aku tidak suka.”
Cinta kembali bergeser menjauh dari Havyn.
Havyn tersenyum sinis dan berkata, “Aku tidak menyukai tempat yang terlalu ramai dan aku capek setiap hari mendengar omelan Donna. Jadi, aku membawamu ke sini, untuk menenangkan diri. Tapi sepertinya kamu tidak tidak suka.”
Selama beberapa saat, mereka berdua terdiam. Havyn menerawangkan pandangannya ke langit yang terhampar di depannya, sementara Cinta duduk, memeluk kedua lutut yang menopang dagunya, sambil memandang jauh ke dalam beningnya air di dalam danau.
Setelah menghela nafas, sambil tetap memandang langit, Havyn melanjutkan perkataannya, “Atau mungkin kita memang tidak seharusnya berpacaran? Apakah sebaiknya kita putus, lalu berteman saja seperti dulu?”
Cinta hanya diam, sementara secara perlahan, butiran air mata semakin lama semakin deras berjatuhan di pipinya. Meskipun Cinta berusaha menahan diri untuk tidak menangis, tapi suara isaknya tetap tidak bisa disembunyikan dari tajamnya pendengaran Havyn yang segera membuka mata, untuk memandang Cinta.
“Kenapa kamu menangis?”
Meskipun diajukan dengan lembut, tapi pertanyaan tersebut membuat Cinta tidak sanggup lagi meredam emosinya.
“Kalau hanya ingin berteman, kenapa kamu mengajak berpacaran? Aku bingung! Katanya berpacaran, tapi tetap sama saja seperti waktu kita hanya berteman. Kamu tidak pernah berinisiatif mengirimkan SMS, email, apalagi menelepon!” Cinta menangis tersedu-sedu. Havyn hanya bisa duduk sambil memandanginya dengan wajah yang kebingungan, karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Setelah tangisnya mereda, meskipun tetap terisak, Cinta melanjutkan perkataannya. “Aku memang menyukai Havyn dan selalu menanyakan kepada Donna, Havyn seperti apa, sedang apa…. Aku juga ingin tahu, bagaimana rasanya berpacaran dengan Havyn. Tapi ternyata…. Havyn menyebalkan!”
Cinta berdiri dan segera beranjak pergi, tapi Havyn bergerak lebih cepat. Hanya dalam hitungan detik, Havyn sudah berhasil mengejar Cinta, membalikkan badan Cinta dan memeluknya, kemudian dengan lembut berbisik ke telinga Cinta.
“Aku hanya bertanya. Aku hanya ingin tahu, bagaimana pendapatmu jika kita kembali berteman saja.”
Cinta mendorong dada Havyn, berusaha membebaskan diri dari pelukannya. Tapi kedua tangan Havyn tetap menahan kedua belah lengannya, sehingga Cinta hanya bisa bertanya, setengah berteriak. “Untuk apa kamu menanyakannya?!”
Havyn menengadahkan kepala, memandang ke arah langit. Sulit rasanya mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan jujur, apalagi sambil memandang Cinta. Meskipun demikian, ia tetap berusaha mengatakannya dengan lembut. “Sebenarnya, aku tidak terlalu yakin jika aku ingin berpacaran denganmu.”
Mendengar apa yang dikatakan Havyn, Cinta yang mulanya berusaha memberontak dengan kuat, seakan-akan lemas tak bertenaga dan tidak mampu lagi berkata-kata, kemudian terjatuh pada kedua belah lututnya. Havyn juga segera menjatuhkan diri di depannya, memandang ke kedua belah mata Cinta dan melanjutkan perkataannya. “Jangan salah mengerti. Kamu baik, pintar dan manis. Aku suka kepadamu.”
Cinta yang masih terisak membalas tatapan Havyn dengan pandangan bertanya-tanya. Havyn kembali tersenyum, lalu  berkata. “Mungkin aku hanya bingung, karena selama ini, aku belum pernah berpacaran, jadi aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan. Selain itu, juga ada beberapa hal yang membuatku merasa aneh, karena semua orang tiba-tiba mengatakan bahwa aku harus melakukan ini, lalu itu, sementara aku tidak terbiasa melakukannya. Apakah kamu sudah pernah berpacaran?”
“Belum.” Jawab Cinta terus terang.  
Havyn melepaskan pegangannya dari lengan Cinta, lalu duduk di sampingnya. “Mungkin, kita memang membutuhkan waktu untuk bisa saling menyesuaikan diri.”
“Mungkin.” Kata Cinta, yang masih saja terisak.
Havyn menengokkan kepala, untuk memandang Cinta sambil bertanya, “Kamu masih mau berpacaran denganku?”
Cinta balas bertanya, “Maksudmu?”
Havyn menjawab, “Kalau masih mau, berarti kamu harus lebih sabar menghadapi aku. Kamu harus mengingatkan aku kalau kamu tidak menyukai apa yang kulakukan. Aku juga akan berusaha untuk lebih memahami kamu dan mengatakan apa pun yang kurasakan dengan jujur, seperti yang kulakukan sekarang ini. Menurutmu bagaimana?”
Cinta menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dengan wajah tersipu-sipu, membuat Havyn ingin menggodanya. “Kamu benar-benar masih mau berpacaran denganku?”
Wajah Cinta semakin memerah. Ia mengangguk, dengan mata yang tetap memandang Havyn sambil tersenyum, dan membuat Havyn tidak dapat menahan diri, untuk menciumnya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Cinta, untuk mengecup bibirnya sesaat, lalu memandangnya.
Sejenak Cinta berbalik memandang Havyn, lalu menundukkan kepala sambil tersenyum tersipu-sipu.
Havyn bertanya, “Kamu suka?”
Cinta hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Tangan Havyn bergerak menyentuh dagu Cinta, untuk mengangkat wajahnya dan menciumnya dalam jangka waktu yang lebih lama.

~*~