Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

8 (Indonesia)


            Malam sudah hampir larut saat Galih turun dari mikrolet, di depan gang rumah Mabel. Sepi. Bahkan satu pun dari tukang ojek yang biasa mangkal di sana juga tidak terlihat sama sekali. Galih menyeringai, lalu berjalan menuju ke bangku kayu panjang yang ‘tertanam’ di pangkalan ojek. Langkahnya gontai, sementara wajahnya tampak mengantuk, namun sesekali menampakkan senyum yang kosong. Usahanya untuk mengeluarkan telepon genggam dari saku pun harus diulanginya berkali-kali, sambil terkekeh-kekeh menertawakan dirinya sendiri, sebelum akhirnya berhasil menelepon Mabel.
            “Halo. Kenapa sayang? ”
            “Pangkalan ojek depan gang.”
            “Sudah selarut ini? Kamu dari mana?”
            Low bat. Ke sini ya.”
            “A….” sambungan terputus sebelum sebelum Mabel sempat menjawab. Setelah berkali-kali gagal menghubungi nomor telepon genggam Galih, akhirnya Mabel mengenakan jaket dan keluar.
            “Mau ke mana Bel?” tanya papanya yang sedang menonton TV.  
            “Cari tukang bakso.” Jawab Mabel sekenanya.
            Setibanya di pangkalan ojek, dilihatnya Galih terlentang di bangku kayu, dengan santai mengisap sesuatu yang terlihat seperti rokok, tapi memiliki bau yang jauh lebih tajam. Segera dihampirinya Galih, lalu merebut ganja yang berada di tangannya dan dilemparkannya sejauh mungkin.
            “Kamu apa-apaan?!” katanya, setengah membentak.
            Meskipun tampak terkejut, tapi Galih hanya menyeringai dan mencoba untuk duduk.
            “Santai, sayang.” Katanya berusaha menenangkan Mabel. Masih sambil sesekali tertawa-tawa tanpa suara.
            Mabel memandangnya dengan sorot mata prihatin, setengah berkaca-kaca, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
            Sebuah Mikrolet lewat, memberikan tanda dengan lampu sorotnya, untuk menawarkan tumpangan kepada mereka.
            “Kamu tahu? Perilakumu yang seperti ini yang membuat papa dan mama tidak menyukaimu.” Kata Mabel, setelah Mikrolet itu berlalu.
            “Tapi aku tetap sayang kamu, Bel.” Galih mengulurkannya tangan, untuk menggenggam tangan Mabel dan menariknya lebih dekat. Tapi Mabel menepisnya dan berkata, “Kamu bahkan tidak mengerti bagaimana caranya menyayangi dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kamu bisa menyayangi aku?”

~*~

Senin, 17 September 2012

1 (Indonesia)


Havyn melangkah memasuki halaman sebuah rumah kecil yang tampak sepi dan sudah lama ditinggalkan. Pada beberapa bagian dari permukaan dinding rumah itu tampak lumut yang menghitam, sementara rumput liar yang menjalar seolah menenggelamkan rumpun tanaman hias yang ditanam pada permukaan tanah yang luasnya tidak seberapa. Dari saku celananya, Havyn mengeluarkan sejumlah kunci yang disatukan pada sebuah gantungan penghias berbentuk hati, untuk membuka pintu depan dan memasuki rumah itu.
Setelah pintu terbuka, seberkas cahaya matahari seolah turut mengikutinya, masuk ke dalam ruang tamu yang gelap dan masih dipenuhi oleh berbagai macam perabot rumah tangga bertutup kain yang berselimut debu. Sarang laba-laba tergantung pada hampir setiap sudutnya. Sedangkan lampu ruang tamu tidak juga mau menyala, meskipun Havyn sudah berkali-kali berusaha menekan sakelarnya.

Dibukanya kain yang menyelubungi meja, kemudian meletakkan ransel dan mengeluarkan berbagai macam barang yang dari kantong plastik yang dibawanyanya, hingga ia berhasil menemukan sebuah bola lampu, untuk menggantikan yang lama. Dan selama beberapa jam berikutnya, Havyn melewatkan waktu dengan membersihkan beberapa tempat di rumah itu, meskipun hanya seadanya saja, sekadar untuk membuatnya merasa lebih nyaman. 
Selesai sudah. Dengan lega, Havyn menghempaskan tubuhnya ke sofa. Seulas senyum tipis menghias wajahnya yang tampak tampan dan matang pada usia tiga puluhan, meskipun tampak lelah. Ditebarkannya pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Semua masih terlihat seperti yang dulu, saat ia meninggalkan rumah itu, untuk terakhir kalinya. 
Diulurkannya sebelah tangan, sambil membungkukkan badan, untuk menyalakan laptop yang terletak di atas meja yang berada di depannya, sementara tangan yang lain bergerak menyangga wajahnya yang mengarahkan pandangan mata yang sayu ke permukaan layar yang menyala. Setelah menunggu selama beberapa saat, ia menjajarkan seluruh jemari pada tombol-tombol yang berada di sana, dalam usahanya untuk menuangkan isi pikiran.  
Beberapa saat telah berlalu, tapi Havyn belum juga berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk mengawali kisahnya. Disulutnya sebatang rokok, untuk mengisap asapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya sambil menghela nafas panjang, dengan wajah tengadah menatap ke langit-langit rumah dan punggung yang bersandar pada sofa. Tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan di dalam benaknya; Kenapa aku belum juga bisa menuangkannya ke dalam bentuk cerita? 
Dipindahkannya laptop itu ke pangkuannya, kembali menyandarkan punggung ke sofa, sambil menghisap rokok dengan santai dan mulai membuka foto pertama yang terdapat di dalam folder yang bernama Cinta. Raut wajah Havyn yang mulanya terlihat tegang berubah semakin lembut, saat ia mulai memandang foto-foto tersebut. 
Haaavyn….

Havyn mengalihkan pandangan dari layar dan kembali mengarahkannya ke seluruh penjuru ruangan. Hanya dengan memandang fotonya saja sudah membuat Havyn merasa seperti benar-benar mendengar Cinta yang sedang menyapanya. Memang, seperti itulah nada yang dulu selalu digunakan oleh Cinta untuk menyebut namanya, hampir setiap kali mereka bertemu.

~ * ~