Rabu, 19 September 2012

3 (Indonesia)


            Cinta yang sedang berjalan menuju ke kelas bersama Donna tiba-tiba menghentikan langkahnya. 
“Sebentar Don, aku lupa menanyakan sesuatu kepada Havyn.” Lalu berbalik dan mengejar Havyn, sebelum Donna bisa mengatakan apa-apa.
“Haaavyn!” Seru Cinta sambil mengejarnya. 
Havyn membalikkan badannya, lalu berdiri diam menunggu Cinta, sambil tersenyum geli. 
“Kenapa? Mau kuliah di kelasku saja?” Tanya Havyn, saat Cinta sampai di depannya.
“Bu…, bukan. Aku lupa menanyakan, nanti makan siang di mana?” Jawab Cinta. Lagi-lagi sambil terengah-engah. 
“Kamu bisa menanyakannya melalui SMS, bukan?” Senyum Havyn semakin melebar, hingga akhirnya meledak menjadi tawa, saat wajah Cinta yang memerah karena malu.
“Be…, benar juga. Kenapa aku bisa lupa, ya?” Lalu ikut tertawa bersama Havyn.
Havyn mencubit pipinya dengan gemas sambil berkata, “Kamu tunggu aku di kantin. Nanti aku ke sana. Oke, sayang?”
Sekali lagi wajah Cinta memerah, tapi kali ini karena senang. Dianggukkannya kepala, untuk memberikan persetujuan. 
“Sekarang, ayo cepat ke kelas. Jangan sampai Donna mengamuk karena harus menunggu terlalu lama.” Kata Havyn dengan lembut, sambil tersenyum dan melirik Donna yang menjulurkan lidah ke arahnya dari kejauhan.
Cinta tersenyum, kembali mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Havyn, menuju ke arah Donna sambil melambaikan tangan. “Oke. Sampai nanti.” 
Havyn ingat. Saat itu, mereka baru tiga hari resmi berpacaran. Mereka bertemu untuk pertama kalinya di hari pertama kuliah, pada semester pertama, dua semester yang lalu, saat mereka bertiga berjalan keluar dari kompleks kampus mereka yang sangat luas. Sejak itu, mereka bertiga sering berangkat dan pulang dari kampus bersama, lalu Donna sering mengajak Cinta dan teman-teman yang lain untuk datang ke rumah mereka. Meskipun Havyn merasakan adanya sesuatu yang berbeda pada apa yang dirasakannya terhadap Cinta, tapi ia sendiri belum terlalu yakin jika ia benar-benar jatuh cinta kepada Cinta, saat meminta kepada Cinta untuk menjadi kekasihnya. Ia hanya merasa suka, sementara Donna terus-menerus memanas-manasinya. 
“Cepat. Awas, jangan sampai menyesal. Bahkan di kelas kami juga ada beberapa teman yang menyukainya.”

~ * ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar