Tampilkan postingan dengan label meja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

24 (Indonesia)


            Cinta meletakkan tas di atas meja belajar, kemudian mandi.
            Gemericik air yang mengucur dari keran membuatnya tidak mendengar telepon genggamnya yang terus-menerus berdering, sehingga ia tetap saja mandi dengan santai, menikmati kesegaran yang membuat hatinya terasa semakin berbunga-bunga. Setelah mematikan keran, baru lah Cinta mendengar dering telepon yang dengan segera disambutnya.
            “Halo, Cinta.”
            “Ya, mas.”
            ….
            Setelah menutup telepon, Cinta dengan panik segera mengumpulkan barang-barang keperluannya, lalu meletakkan semuanya di atas tempat tidur sebelum memasukkannya ke dalam tas. Belum sempat ia menyelesaikannya, telepon kembali berdering.
            “Aku sudah di depan. Cepat.”
            “Sebentar, mas.”
            Sebelum bergegas keluar, Cinta segera memasukkan semua barang yang telah dipersiapkannya di tempat tidur. Kecuali telepon genggamnya, yang terjatuh saat Cinta dengan terburu-buru memasukkannya ke dalam tas.

~*~

Jumat, 21 September 2012

5 (Indonesia)


Telepon genggam yang tergeletak di atas meja berbunyi. Dengan malas Havyn bangkit dari tempat tidur untuk mengambilnya. Havyn melihat tampilan pada layarnya. SMS dari Cinta.
Haaavyn, sudah makan malam atau belum? Makan apa? Kenapa tidak mengirimkan SMS kepadaku?
Jemarinya mulai bergerak, membalas SMS dari Cinta.
Aku belum makan. Mungkin sebentar lagi. Kamu sudah makan? Tadi makan apa?
Aduh! Havyn merasa aneh jika harus mengirimkan SMS yang seperti itu. Jemarinya kembali bergerak…, menekan tombol untuk menghapus dan membatalkan pesan yang sudah hampir dikirimkannya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya digedor. Terdengar Donna berteriak dari luar sana. “Havyn! SMS Cinta kenapa belum kamu balas? Havyn! Tidur ya?”
“Belum! Aku sedang mengetik pesan balasannya!”
“Cepat dikirim, ya!”
Havyn menghempaskan badannya ke tempat tidur. Huh! Punya sepupu yang seperti itu memang benar-benar sangat merepotkan. Dan ternyata, berpacaran juga merepotkan….
“Havyn! Kenapa belum dikirim juga?” lagi-lagi Donna menggedor pintu kamarnya dan berteriak.
“Iya, sebentar lagi kukirim!”
“Awas, jangan terlalu lama!”
“Makanya jangan berisik!”

~ * ~